BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

May 5, 2007

Meniti Tangga-tangga Kesuksesan di Al-azhar

Filed under: Arsif PPMI CAIRO — supraptoe @ 6:09 pm

Ummu Yumna Sabîlal Hudâ

Iftitâh
Kesuksesan atau keberhasilan adalah harapan puncak setiap manusia dalam tiap aktivitas yang ia lakukan. Pedagang punya harapan usaha niaganya sukses dan memberinya laba berlimpah. Pegawai suatu instansi atau karyawan sebuah perusahaan ingin sukses meniti karir. Panitia kegiatan suatu organisasi ingin acara yang mereka gelar berjalan lancar sesuai rencana. Pelajar dan mahasiswa berharap sukses dalam studi mereka. Begitulah, dalam aktivitas apapun—besar maupun kecil— termasuk aktivitas keseharian, setiap orang ingin segalanya terlaksana sesuai harapan: lancar dan sukses.
Namun pada realitanya, tidak semua orang mampu menggapai kesuksesan yang ia idamkan. Sebab seseorang hanya akan sukses bila ia tahu dan meniti jalannya. Begitu juga kita, para penuntut ilmu di Al-Azhar. Kita hanya akan berhasil bila sudah memiliki kunci dan memutar kunci itu untuk membuka dan memasuki gerbang kesuksesan belajar di Al-Azhar. Sebuah syair Arab mengingatkan:
ترجو النجاة ولم تسلك مسالكها إن السفينة لا تجري على اليابس

Mengapa Kita Mesti Sukses dan Berprestasi?
Karena kesuksesan dan prestasi yang kita raih:
 Menumbuh-suburkan rasa percaya diri
 Menanamkan rasa kesanggupan untuk memberi
 Merealisasikan impian, harapan dan cita-cita
 Menempatkan kita pada posisi dan peran strategis di masyarakat

Juga untuk:
 Meraih kecintaan Allah Swt.
 Membalas budi kedua orang tua dan keluarga
 Mampu berkontribusi bagi negara dan bangsa serta umat Islam pada umumnya

INGAT: Tempat terhormat di masyarakat hanya tersedia bagi mereka yang
SUKSES dan BERPRESTASI
bukan untuk mereka yang GAGAL!

Fakta-fakta penting yang dapat membantu kita untuk sukses dan berprestasi:
 Kesuksesan bukan mimpi, tapi realita
Kalau ada yang menyangka bahwa kesuksesan adalah mimpi yang bisa menjadi kenyataan hanya dengan berandai-andai, maka ia salah besar. Sukses adalah tujuan riil yang menuntut kita untuk mengkonsentrasikan fikiran dan mengerahkan segala daya untuk merealisasikannya. Karena itu, mari berfikir, kemudian berbuat. Jangan hanya duduk berangan-angan dan diam berpangku tangan.

 Kesuksesan tidak datang secara kebetulan
Satu fakta lagi yang tidak bisa dipungkiri bahwa seseorang tidak mungkin secara kebetulan sukses. Tentu dibelakang sederet prestasi yang diraihnya ada serangkaian panjang kisah kesungguhan, perjuangan dan kerja keras. Jadi, selama kita mau bergerak dan berupaya, setinggi apapun harapan dan cita-cita, Insya Allah akan menjelma nyata.

 Kesuksesan merupakan “buah tangan” kita
Kesuksesan atau kegagalan yang dialami seseorang dalam kehidupannya sangat berkaitan erat dengan potensi yang ia miliki dan kembangkan serta usaha yang ia kerahkan. Betul, kita tidak menafikan tawfîq dari Allah Swt. Tapi sekali lagi, titilah jalan! Dayung sampan! Berbuatlah sesuatu!

 Ketenangan jiwa akan membimbing kita menuju kesuksesan
Para penggemar olahraga sepakbola, tentu tahu Zinedine Zidane. Yang setia mengikuti jalannya Piala Dunia Jerman 2006 atau sekedar menyaksikan babak finalnya, juga tentu hafal “sundulan telak” kapten kesebalasan Perancis berdarah Arab ini di dada Mattirezzi, pemain asal Italia. Meski tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2006, toh, orang—dan penulis yakin termasuk Zidane sendiri—masih sulit melupakan perilaku tidak sportif Zidane dan “hadiah” kartu merah untuknya.
Terlepas dari apapun sebab yang melatarbelakangi tindakan Zidane itu, kita belajar bahwa kemampuan menjaga kestabilan emosi adalah salah satu bekal penting untuk menghantarkan seseorang sampai di puncak kesuksesan. Karena umumnya, mereka yang mampu mencapai kesuksesan adalah orang-orang yang relatif tenang dan stabil emosinya.

 Rasa percaya diri dapat mendorong kita menggapai kesuksesan
Jika kita memiliki rasa percaya diri yang memadai dan tidak bergantung pada pandangan dan penilaian orang lain, berarti kita telah memiliki sumber energi dan kekuatan untuk hidup sukses. Percaya diri terkait sangat erat dengan pengenalan dan pemahaman kita yang mendalam terhadap diri kita.
Untuk menanamkan rasa percaya diri, cobalah untuk selalu menghargai diri sendiri sebagaimana kita perlu menghargai orang lain. Selalu berfikir positif dan realistis. Hindari pikiran negatif dan rasa pesimis yang dapat mengguncang kekuatan kepribadian, seperti cemas yang berlebihan, takut gagal dan sejenisnya. Jangan pernah meremehkan diri sendiri dan yang terpenting mintalah selalu bimbingan dari Allah Swt.

Aneka Tipe dan Gaya Belajar Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir):
1. Konsentrasi penuh terhadap kuliah dan muqarrar sejak awal tahun akademis, serta mengurangi atau bahkan meninggalkan bacaan non-muqarrar dan aktivitas luar kampus, seperti talaqqi ‘ulûm syar‘iyyah atau berorganisasi.
2. Konsentrasi penuh kepada buku-buku non-muqarrar dan aktivitas luar kampus, baru serius memperhatikan muqarrar pada waktu ujian sudah dekat.
3. Tetap menaruh perhatian untuk mempelajari muqarrar dari awal, dengan tidak meninggalkan bacaan serta aktivitas di luar kuliah
4. Hanya sibuk dan peduli dengan aktivitas luar kampus.
5. Santai-santai. Aktif kuliah tidak, talaqqi tidak juga, aktif berorganisasipun tidak.

Anda bisa menentukan sikap dan mengambil keputusan yang bijak untuk mengkategorikan diri Anda sendiri. Sesuai tujuan dan kepentingan Anda di Mesir. Yang penting, Anda tahu potensi dan kemampuan diri. Hanya saja, mahasiswa yang gagal kebanyakan pada kategori keempat dan kelima.

Metode Belajar Efektif
Seseorang tidak mungkin bisa berhasil dan berprestasi tanpa belajar. Belajar (al-Mudzâkarah) adalah sebuah seni. Ini harus kita ketahui dan fahami. Sebagai sebuah seni, artinya belajar memiliki cara, teknik, atau metode tersendiri. Belajar hanya akan efektif bila cara, teknik dan metodenya diikuti dan dilakukan dengan benar. Meski bisa menjadi acuan metode belajar secara umum, namun uraian berikut lebih ditekankan pada metode belajar untuk menghadapi ujian.
Tentu saja, sejatinya kita belajar bukan sekedar “exam-oriented”. Namun, karena ujian merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan, apalagi di dunia yang mengagungkan formalitas masih menjadikan berhasil-gagalnya kita dalam ujian sebagai neraca penilaian, maka sudah semestinya kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

I. Langkah-langkah Awal:
a. Pilih dan tentukan waktu khusus yang tepat untuk belajar. Ini tergantung kepada keinginan masing-masing individu. Tidak ada formula khusus yang bisa dijadikan panduan permanen. Namun berdasarkan analisa, waktu menjelang subuh atau pagi setelah subuh merupakan waktu paling baik untuk belajar.
b. Pilih tempat belajar yang bersih, nyaman dan kondusif. Hindari belajar di atas tempat tidur, apalagi sambil berbaring. Anda tak mesti selalu belajar di kamar.Untuk menghilangkan jenuh dan memberi semangat baru, Anda bisa belajar di masjid, di taman, di balkon, di suthuh imarah rumah Anda atau tempat lainnya yang mendukung suasana belajar Anda. Bisa juga belajar sambil berdiri atau berjalan-jalan, khususnya ketika diserang kantuk. Namun, jangan paksakan diri untuk belajar dalam kondisi sangat lelah atau mengantuk. Istirahatlah sejenak sampai Anda kembali merasa pulih dan segar.
c. Pilih subjek bahasan dan mata kuliah yang sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan secara teratur. Utamakan waktu pagi dan waktu di mana Anda merasa sangat fresh untuk subjek atau mata kuliah yang sulit, sementara mata kuliah yang lebih ringan bisa di waktu yang lain. Poin ini sangat terkait dengan penyusunan jadwal belajar yang sistematik.
d. Berwudhu sebelum belajar. Insya Allah siraman air wudhu membuat tubuh dan pikiran Anda lebih segar.
e. Tilawah beberapa ayat Alquran agar hati dan jiwa merasakan ketenangan
f. Berdoalah sebelum mulai belajar
g. Upayakan untuk konsentrasi penuh. Jauhi kebisingan dan sumber-sumber masalah yang dapat mengganggu konsentrasi dan perhatian terhadap pelajaran.

II. Langkah-langkah Lanjutan
Meskipun tiap orang memiliki gaya dan cara belajar tersendiri, namun secara umum, bisa dirumuskan teknik dan kiat belajar efektif sebagaimana berikut:
 Membaca dan mengkaji ulang
 Membuat ringkasan
 Menghafal
 Berdiskusi
 Membuat jadwal belajar teratur yang ditaati
 Menghadiri kuliah
 Menginventarisir dan menganalisa soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya

A. Membaca
Membaca adalah unsur penting dalam menguasai pelajaran. Pada tahap ini, Anda diminta melakukan perkenalan dengan muqarrar/diktat kuliah untuk selanjutnya menyusun langkah-langkah pendekatan sampai muqarrar betul-betul “bersenyawa” dengan diri Anda. Terapkan rumus SQ3R.
Survey: Tahap ini adalah perkenalan singkat dengan diktat kuliah. Ketahui apa judulnya dan siapa pengarangnya. Kenali secara global isinya dengan membaca muqaddimah, daftar isi, dan kerangka umum isi buku. Hingga di benak Anda terekam gambaran umum diktat tersebut. Karena diktat kuliah Al-Azhar, kecuali mata kuliah Bahasa Inggris, semuanya menggunakan Bahasa Arab, maka penguasaan Bahasa Arab menjadi modal utama yang sangat dibutuhkan.
Ingatlah Puzzle:
Akan jauh lebih mudah jika Anda melihat gambar keseluruhannya terlebih dahulu

Question: Buatlah pertanyaan semisal: Apa yang hendak saya peroleh dari buku ini? Informasi baru apa yang mungkin saya dapatkan? Atau pertanyaan lain yang mungkin timbul setelah Anda melihat daftar isi dan mengetahui gambaran atau kerangka umum diktat yang akan Anda baca.
Read: Mulailah membaca dengan seksama. Usahakan untuk tidak meninggalkan satu barispun yang belum difahami. Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum Anda betul-betul memahami. Jangan malas dan bosan meminta bantuan guide bahasa dan sahabat setia belajar Anda, yaitu kamus bahasa. Untuk memudahkan, gunakan kamus Arab-Indonesia, bukan Arab-Arab, Arab-Inggris atau yang lainnya. Jika Anda belum juga faham, silakan lanjut ke bagian berikutnya setelah terlebih dahulu memberi tanda pada bagian yang belum difahami, untuk nanti ditanyakan kepada kawan atau kakak senior yang Anda lihat mampu membantu Anda. Temukan juga tentukan pokok-pokok pikiran atau ungkapan-ungkapan penting pada tiap paragraf. Beri tanda dengan menggunakan rumus atau menggarisbawahinya.

Siapa bingung saat belajar, akan bingung waktu ujian
Siapa bingung waktu ujian, akan menyesal saat pengumuman

Recall: Setelah beberapa saat membaca, sudahkah informasi yang ada di dalam buku mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Anda buat tadi.
Review: Berikan jeda bagi otak dan ruang memori Anda untuk menyerap “nutrisi” berupa ilmu dan informasi baru. Misalnya tiap 1 jam, beri jeda 8-10 menit. Jangan lebih. Di waktu jeda ini, Anda bisa sambil minum air putih, jus buah atau makan buah segar untuk menggiatkan tubuh dan mengaktifkan otak lagi.

B. Membuat ringkasan
Ringkasan dibuat sebagai tanda kita telah memahami muqarrar. Ia ibarat intisari muqarrar. Karenanya, ringkasan yang ditulis harus berupa rumusan penting yang membantu kita dalam proses mengingat dan menghafal.
Ringkasan yang baik dibuat setelah kita membaca muqarrar secara menyeluruh dan memahaminya dengan benar. Ringkasan juga harus mengikuti muqarrar, khususnya dalam hal ta‘rif, dalil, poin-poin utama dan pendapat-pendapat ulama. Cari dan temukan pikiran utama dan pikiran pembantu dalam suatu bahasan dan pada tiap paragraf. Pilihlah kata dan kalimat yang simpel, mudah difahami dan diingat.
Sebaiknya, Anda tidak bergantung pada ringkasan orang lain. Sebab ringkasan yang dibuat oleh tiap orang menunjukkan hasil pemahamannya. Sementara pemahaman tiap orang belum tentu sama. Dan belum tentu juga pemahaman orang lain lebih baik dari pemahaman Anda. Jika Anda termasuk yang kurang suka membuat ringkasan, minimal buatlah semacam skema yang memuat pokok-pokok pikiran dan inti bahasan setiap bab misalnya.

C. Menghafal
Sistem ujian Al-Azhar lebih menitikberatkan aspek ketepatan data berdasarkan teks yang diberi ketimbang kemampuan ekspresi dan kekuatan argumentasi. Karenanya, kemahiran membaca dan memahami saja tidak cukup untuk meraih keberhasilan maksimal. Kemampuan menghafal termasuk faktor penting yng menentukan.
Tentu tidak setiap kata perlu dihafal—kecuali pada muqarrar Alquran. Hafallah poin-poin penting dari ringkasan. Menghafal kosakata, kalaupun perlu, adalah sekedar untuk mempermudah menjawab saat ujian. Karena tidak sedikit mahasiswa yang sudah sangat faham apa yang dibaca dan tahu betul masalahnya, namun mengalami kesulitan untuk menuangkan apa yang ada dibenaknya ke lembar jawaban karena miskin kosakata.
Selain poin-poin utama dan pokok-pokok pikiran, hal lain yang mesti dihafal dengan baik adalah ta‘rif (definisi), dalil-dalil (terutama dalil naqlî dari Alquran dan hadis), pendapat-pendapat ulama dan bait-bait syair.
Hal penting lain yang mesti serius diperhatikan adalah muqarrar hafalan Alquran. Sebaiknya Anda menghafal sebelum diktat kuliah turun. Bila Anda menunda menghafal sampai dekat waktu ujian maka konsentrasi Anda akan terbagi dan terbelah. Sementara bila dari jauh hari sudah Anda hafal, maka di hari-hari belajar menjelang ujian, Anda cukup murâja‘ah saja. Ini relatif lebih ringan ketimbang baru mulai menghafal.

Kiat Menghafal:
1. Memilih waktu yang tepat, yaitu ketika pikiran masih segar. Waktu menjelang subuh setelah qiyamullail atau setelah subuh bisa menjadi alternatif paling baik.
2. Menghafal dalam suasana tenang, tanpa kegaduhan atau gangguan apapun.
3. Berwudhu terlebih dahulu
4. Awali dengan tilawah beberapa ayat Alquran.
5. Bersungguh-sungguh dan selalu optimis.
6. Hindari perasaan pesimis dan pikiran negatif.
7. Menghafal dalam kondisi tubuh fresh, lambung tidak kekenyangan juga tidak kelaparan
8. Memahami apa yang dihafal
9. Menghafal berulang kali hingga betul-betul lekat di ingatan
10. Hentikan dulu menghafal bila sudah merasa lelah atau jenuh
11. Gunakan semua panca indera. Disamping melihat apa yang dihafal, hendaknya Anda ucapkan dengan lisan secara berulang-ulang, telinga mendengar apa yang diucapkan lalu tulislah di atas kertas
12. Carilah teman untuk “pasangan hafal”. Lakukan tanya-jawab dengan teman tadi. Ini membantu Anda mengingat dengan cepat dan bertahan lama.

Waspadai: Faktor-faktor Lupa!
1. Jarang mengulang
2. Jarang melatih hafalan
3. Tidak yakin dengan hafalan sendiri
4. Kerja berat setelah menghafal
5. Banyak problem
6. Berbuat maksiat

D. Berdiskusi
Saat terbaik untuk mendiskusikan materi-materi kuliah tentu adalah jauh hari sebelum ujian. Bukan sesaat menjelang masuk ruang ujian. Berdiskusi dengan teman merupakan salah satu kiat belajar efektif karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain:
Membuat pelajaran lebih mudah difahami, karena dengan adanya dialog selama diskusi, kita dapat lebih berkonsentrasi. Gangguan kantuk juga dapat berkurang. Berdiskusi juga menolong kita memberi pemahaman yang lebih jelas dan tepat terhadap kandungan pelajaran.
Berbagi informasi kuliah dan bimbingan
Menjadikan waktu belajar lebih efektif dan efisien
Membuat otak lebih aktif dan kreatif
Memudahkan mengingat pelajaran
Membantu menyediakan catatan dan ringkasan. Melalui diskusi kita lebih mudah memperoleh data penting tentang materi dalam diktat atau muqarrar. Secara tidak langsung, ini membantu kita menyiapkan catatan dan ringkasan yang baik.
Kiat Berdiskusi Efektif:
1. Dipimpin dan ditanggungjawabi oleh orang yang berkemampuan.
2. Diikuti oleh satu atau dua anggota yang aktif dan kreatif.
3. Disiplin waktu yang ditetapkan.
4. Memperbanyak tanya-jawab dan sharing pikiran dalam dialog.
5. Seluruh peserta diskusi telah membaca topik-topik yang dibicarakan lebih dulu atau minimal sudah memiliki gambaran ringkas.
6. Menggunakan kertas-kertas coretan dan atau papan tulis bila perlu.
7. Boleh diselingi istirahat atau makan asal tetap konsisten pada waktu.
8. Keberhasilan diskusi sangat ditentukan oleh suasana “team work” yang dapat dihidupkan di kalangan peserta atau anggota diskusi.

E. Membuat jadwal belajar yang ditaati
Membuat jadwal belajar melatih Anda menggunakan waktu secara efektif dan menjadikan Anda belajar konsisten. Tambahan lagi, tingkat kesulitan masing-masing materi berbeda dan kemampuan bahasa tiap-tiap individu pun tidak sama. Al-Azhar tidak bisa dihadapi dan ditaklukkan dengan senjata SKS (Sistem Kebut Semalam). Menyicil membaca 20 halaman sehari selama 3 bulan misalnya, lebih baik daripada ngebut 1500 halaman selama seminggu. Anda bisa tumbang! Belajar secara teratur dan konsisten selaras kemampuan, Insya Allah bisa membantu Anda mencapai hasil yang maksimal.

F. Menghadiri kuliah
Diantara rahasia keberhasilan seorang mahasiswa dalam studi adalah seberapa kerap ia menghadiri kuliah. Intens mengikuti perkuliahan penting ditinjau dari beberapa sisi:
Memperoleh limpahan keberkahan dari Allah karena menghadiri majlis ilmu
Membantu memahami materi diktat terutama istilah-istilah kronik melalui penjelasan dosen
Terkadang dosen memberikan soal-soal yang biasanya kemungkinan besar keluar waktu ujian.
Mendapat informasi di luar diktat. Sebagian dosen kadang lebih mementingkan informasi dan rujukan yang ia sampaikan di luar diktat. Kadang juga memberi soal yang jawabannya tidak dapat ditemukan di diktat, tetapi dari penjelasan-penjelasannya sewaktu memberikan kuliah.
Bisa mengetahui karakter materi, perkiraan soal ujian serta keinginan dosen pengajar dalam menjawabnya.
Membantu penguasaan Bahasa Arab, terutama dari sisi mendengar dan memahami yang disampaikan (mahârah al-istimâ‘)

Kiat Efektif Hadir Kuliah:
1. Hadir kuliah tepat pada waktunya
2. Duduklah di depan
3. Dengarkan dengan seksama
4. Pusatkan perhatian dan jangan ngantuk
5. Jangan mengobrol atau melamun
6. Catat ungkapan-ungkapan penting. Apalagi ketika dosen memberikan tahdîd materi yang akan diujikan. Pasang telinga baik-baik untuk betul-betul memastikan, apakah dosen menetapkan suatu sub bahasan umpamanya, masuk kategori muhim, muhim jiddan, muqarrar, qiraah, musy muhim atau malghi.
7. Kenali dosen. Tentu bukan sekedar tahu nama. Tapi perkenalan yang membuat Anda tahu karakternya, seberapa luas wawasannya, metodenya dalam memberi soal serta menetapkan penilaian dan sebagainya
8. Bacalah diktat sebelum kuliah, terutama pada bagian yang sekiranya akan dibahas
9. Temukan dan tentukan poin-poin penting dan pikiran-pikiran utama
10. Mengkaji ulang pelajaran di rumah

G. Menginventarisir dan menganalisa soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya
Metode ini termasuk teknik yang tidak kurang pentingnya guna menghadapi ujian. Anda bisa mengenal karakteristik soal tiap mata kuliah, meski dosen dan diktatnya berbeda. Kalau ternyata dosen dan atau diktatnya sama, Anda bisa berlatih menjawab soal-soal tersebut. Tidak tertutup kemungkinan, dosen memberikan soal-soal yang sebagiannya sama dengan tahun sebelumnya. Pengalaman penulis malah pernah mendapat soal-soal yang seluruhnya sama persis dengan soal-soal dua tahun sebelumnya. Jika suatu saat Anda mendapati hal yang sama dan telah berlatih menjawab soal-soal tersebut, Anda beruntung karena segalanya jadi lebih mudah.
Metode ini juga berguna untuk membantu kita memprediksi atau membuat perkiraan soal-soal yang akan keluar. Namun karena sistem ujian Al-Azhar sulit diduga, Anda tetap harus memiliki kesiapan yang matang dan menyeluruh. Hingga sekiranya prediksi Anda meleset, Anda masih mampu menjawab soal-soal yang diberikan karena Anda sudah siap sebelumnya.

III. Khitâmul Misk
• Jaga kondisi tubuh agar selalu sehat dan prima
• Usahakan agar emosi tetap stabil.
• Jagalah selalu kedekatan dan kebersamaan Anda dengan Allah dengan memperbanyak taubat dan istighfar, merapikan ibadah wajib, meningkatkan amalan sunah, selalu berzikir dan berdoa dan meninggalkan maksiat. Hubungan yang intens dengan Allah Swt. dan menghindarkan diri dari maksiat memudahkan masuknya cahaya ilmu ke dalam diri kita. Imam Syafi‘i ra. pernah mengadu dan meminta kepada gurunya formula untuk menguatkan hafalan dan daya ingat. Gurunya, Iman Waki‘, memberikan resep berupa pesan untuk meninggalkan dosa dan maksiat.

” شـكوت إلى وكيع سـوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعاصي
وأخبـرنـي بأن العـلم نـور ونور اللـه لا يهـدى للعاصـي”

• Lengkapi usaha dan doa Anda dengan indahnya tawakkal kepada Allah Swt.

Panduan Sukses Ujian
a. Sebelum masuk ruang ujian:
1. Banyaklah berzikir dan doa, tenangkan hati dan pikiran.
2. Pastikan kebenaran jadwal ujian.
3. Istirahatlah yang cukup di malam hari sebelum ujian agar kondisi tetap fit dan prima. Jangan habiskan waktu dan energi untuk menghafal muqarrar baris demi baris. Cukup muraja‘ah poin-poin penting dan pokok-pokok pikiran.
4. Sarapan, makan dan minum secukupnya.
5. Periksalah dengan teliti hal-hal yang penting dan perlu dibawa, seperti kartu ujian, alat tulis, jam tangan, ongkos bis atau taksi dan sebagainya.
6. Berusahalah untuk tiba di tempat ujian lebih awal. Jangan sampai mepet waktu apalagi terlambat.
7. Usahakan untuk tidak banyak bicara. Hindari berdiskusi apalagi berdebat dengan teman mengenai materi yang akan diujikan atau hal lain yang tidak berhubungan dengan ujian.

b. Ketika di dalam ruang ujian:
1. Ucapkan basmalah, mohonlah petunjuk dan bimbingan Allah agar dapat menjawab dengan benar dan tepat.
2. Manfaatkan—sekurangnya—lima menit pertama setelah memperoleh kertas soal untuk membaca seluruh soal dengan teliti serta memahaminya dengan baik. Ingat: “Fahmu as-su’âl nishfu al-ijâbah”!
3. Jangan terkonsentrasi untuk membaca soal pertama saja, sebab kadang kita tidak diminta untuk mengerjakan seluruh soal, tapi dipersilakan untuk memilih soal mana yang bisa kita jawab dengan baik.
4. Tulis nama, nomor ujian (raqm julûs), jurusan, mata kuliah yang diujikan, tanggal ujian dan sebagainya dengan cermat pada tempat yang tersedia di muka halaman jawaban. Yakinkan semuanya sudah tepat dan benar. Jangan sampai Anda mengulang satu tahun hanya gara-gara— umpamanya—salah menulis raqm julus.
5. Kerjakan dan jawab soal sesuai dengan yang diminta.
6. Mulailah dengan menjawab soal-soal yang mudah dan telah Anda kuasai dengan baik. Ini memberi Anda ketenangan dan meningkatkan rasa percaya diri untuk mengerjakan soal-soal lainnya.
7. Tulis nomor soal yang dijawab dan pisahkan baris satu jawaban soal dengan jawaban soal yang lain.
8. Tulis jawaban dengan rapi dan jelas. Usahan lembar jawaban bersih. Hindari terlalu banyak coretan.
9. Jangan pedulikan suasana sekitar, seperti kasak-kusuk teman yang nyontek, teriakan atau rumpian pengawas, lalu-lalang orang dan sebagainya.
10. Jangan tergesa-gesa menjawab ketika melihat ada kawan yang sudah selesai lebih dulu.
11. Jawablah soal dengan tenang meskipun mengalami kesulitan. Jangan biarkan lembar jawaban tak terisi.
12. Untuk mâddah hafalan:
• Jawablah apa yang sudah dihafal dengan baik. Bila ada kata-kata yang terlupa, tinggalkan dulu, nanti disempurnakan.
• Kalau nantinya belum teringat juga, jika pada mâddah Alquran, biarkan saja kosong terlewat. Tapi kalau mâddah lain boleh diisi dengan memakai uslûb sendiri yang agak mengena.
• Bila ada soal Alquran yang sedikitpun tidak bisa dijawab, boleh juga diisi dengan menulis ayat-ayat lain yang Anda hafal. Mudah-mudahan yang memeriksa kurang teliti dan tetap diberi poin karena sudah menjawab. Lumayan, kan?
13. Perhatikan durasi waktu ujian. Gunakan waktu semaksimal mungkin untuk mengerahkan seluruh kemampuan dan persiapan Anda sebelum ujian.
14. Jangan terfokus pada kuantitas. Panjang dan banyaknya jawaban kadang tidak lebih baik dari jawaban yang singkat tapi padat dan jelas. Ini tergantung pada sifat mâddah dan bisa juga keinginan dosennya. Konsentrasikan selalu untuk memberi jawaban yang padat kualitas.
15. Alokasikan waktu untuk memeriksa jawaban. Sekiranya ada yang kurang bisa ditambah dan kalau ada yang salah bisa dibetulkan.
16. Hati-hatilah untuk merubah jawaban apapun yang sudah Anda tulis, kecuali jika Anda betul-betul yakin bahwa jawaban yang telah ditulis itu salah. Karena biasanya jawaban yang pertama kali hadir di pikiran itulah yang benar.
17. Serahkan lembar jawaban kepada pengawas setelah yakin dan puas dengan jawaban. Pastikan juga bahwa nama, raqm julûs dan tanda tangan Anda sudah tertera di daftar hadir ujian.

c. Setelah ujian:
1. Ucapkan hamdalah
2. Jangan lagi memperbincangkan, memperdebatkan atau sekedar mengecek jawaban soal. Khawatir itu bisa melemahkan bahkan menjatuhkan mental Anda bila ternyata jawaban Anda salah atau kurang sempurna. Bisa juga membuat orang lain sedih dan terpukul bila ternyata jawabannya yang kurang tepat.
3. Tetap optimis meski tentu tak boleh berlebihan. Karena hanya Allah yang Maha Tahu cara, standar, serta keinginan para pengoreksi dan pemberi nilai.
4. Istirahatlah, kemudian bersiaplah untuk materi ujian berikutnya.
5. Jika kelak Allah mengizinkan Anda lulus apalagi termasuk berprestasi, jangan sampai membanggakan diri. Sadari bahwa semua adalah karunia Allah dan bersyukurlah. Dan ketahuilah, setinggi apapun prestasi yang diraih, bukan berarti segalanya sudah selesai dengan sempurna. Teruslah belajar dan menimba ilmu di universitas kehidupan yang sangat luas ini.
6. Kalau sebaliknya—lâ qaddaralLâh—,jangan putus asa. Sabar kemudian inventarisir sebab-sebab kegagalan. Lalu perbaiki dan jadikan cambuk untuk menggapai kesuksesan. Tidak sedikit yang sempat tersandung dan jatuh di langkah pertama, dengan semangat baja akhirnya bisa menyelesaikan studi dengan baik.

Ikhtitâm
Dalam karyanya yang mengungkap tentang mukjizat Alquran di alam semesta dan dalam diri manusia, Harun Yahya menyatakan bahwa setiap manusia memiliki sidik jari unik yang tidak sama dengan manusia lainnya. Sementara dalam buku The Learning Revolution dikatakan bahwa setiap orang memiliki gaya belajar yang unik, sama uniknya dengan sidik jari. Sangat mungkin seseorang punya gaya belajar sendiri yang ia rasa lebih pas untuk dirinya untuk meraih sukses ketimbang ikut gaya belajar orang lain. Karena itu, segera kenali kemampuan diri serta temukan gaya belajar yang sesuai dan tepat bagi Anda.
Selain merujuk beberapa buku tentang manajemen dan kiat belajar efektif dalam meracik tulisan ini, penulis juga membumbuinya dengan pengalaman pribadi. Jadi, ia lebih merupakan sebuah peta atau rambu-rambu menuju tujuan. Bukan satu-satunya kendaraan yang siap mengantarkan Anda ke tempat yang dituju. Tentu Anda bisa juga menimba pengalaman berharga dari yang lain. Hanya saja, semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi cermin dan sekedar panduan untuk meraih prestasi yang lebih baik lagi. Yang pasti, awali segala sesuatunya dengan bismillâh. Semoga dengan begitu, Anda tidak nyasar dan Allah mengkaruniakan Anda kesuksesan dunia dan akhirat.
Selamat belajar, berusaha dan berdoa!
WalLâhu al-Musta‘ân wa Huwa A‘lamu bi ash-Shawâb

Daftar Referensi:
1. Alquran al-Karîm
2. Dr. Akram Ridha, Idârah adz-Dzât Dalîl asy-Syabâb ilâ an-Najâh, Dâr at-Tawzî‘ wa an-Nasyr al-Islâmiyyah, Kairo,cet.III, Januari 2000
3. Ridhâ al-Mishry, Kaifa Tanjah wa Tashbah Mutafawwiqan, tanpa penerbit, cet.III, 1421/2000
4. Panduan Berpacu dalam Ujian 1993, KMA Kairo-Mesir, Edisi I, Januari 1993
5. Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos, The Lerning Revolution (terjemah edisi Bahasa Indonesia: Revolusi Cara Belajar), Kaifa, Bandung, cet.II, Juni 2001

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: