BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

April 5, 2007

JILBAB BUKAN ALTERNATIF

Filed under: wacana — supraptoe @ 5:09 pm

Upaya merekonstruksi ulang penafsiran hukum

Pemakaian jilbab di Indonesia dan beberapa tempat di dunia, menjadi salah satu masalah social masyarakat, khususnya yang beragama islam di mata pergaulan dunia.Di Negara Eropa beberapa kasus terungkap dalam kaitannya dengan busana wanita muslim.
Ada problematika social yang harus di pahami dalam konteks batasan aurat wanita yang boleh diperlihatan.misalnya,apakah boleh berfoto dengan memperlihatkan ”aurat”,yaitu dengan memperlihatkan atau terlihat tangan,terlihat telinga( buat SIM, KTP,dan PASPORT), atau mau dengerin walkman,blututh yang harus ditempelin di telinga,di sini ada tarik-ulur kepentingan di satu sudut kita kepingin menjalankan syariat islam secara kaffah di sudut lain kita kepingin hidup normal
Jilbab berasal dari kata kerja jalaba yang artinya menutupkan sesuatu di atas sesuatu yang lain sehingga tidak dapat di lihat.Dalam masyarakat islam, selanjutnya jilbab di tafsirkan pakaian yang menutupi tubuh seseorang tidak hanya luarnya saja tapi juga lekak-lekuk dan bentuk tubuh.Para ahli tafsir dalam menggambarkan jilbab berbeda-beda, Ibnu Abbas dan Abidah al-Samani merumuskan jilbab sebagai pakaian perempuan yang menutupi wajah berikut seluruh tubuhnya kecuali satu mata. Dalam keterangan lain disebutkan sebagai mata sebelah kiri. Qatadah dan Ibnu Abbas dalam pendapatnya yang lain mengatakan, makna mengulurkan jilbab adalah menutupkan kain ke dahinya dan sebagian wajahnya, dengan membiarkan kedua matanya. Mengutip pendapat Muhammad bin Sirin, Ibnu Jarir berkata, “Saya tanya kepada Abidah al-Samani mengenai ayat yudnina ‘alaihinna min jalabihinna (hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya). Maka dia menutupkan wajahnya dan kepalanya sambil menampakkan mata kirinya”. Ibnu al-Arabi dalam tafsir Ahkam al-Qur’an, ketika membicarakan ayat ini menyebutkan dua pendapat. Pertama, menutup wajahnya dengan kain itu sehingga tidak tampak kecuali mata kirinya,Azzamakhsyari dalam Alkasysyaf merumuskan jilbab sebagai pakaian yang lebih besar dari pada kerudung tetapi lebih kecil daripada selendang. Ia dililitkan di kepala perempuan dan membiarkannya terulur ke dadanya. Ibnu Katsir mengemukakan bahwa jilbab adalah selendang di atas kerudung. Ini yang disampaikan ibnu Mas’ud, Ubaidah Qatadah, Hasan Basri, Sa’id bin Jubair al-Nakha’i, Atha al- Khurasani dan lain-lain.Sementara Wahbah az-Zuhaili dalam at tafsir al-Munir pada kesimpulan akhirnya mengatakan bahwa para ulama ahli tafsir seperti Ibnu al-Jauzi, at-Thabari, Ibnu Katsir, Abu Hayyan, Abu as-Sa’ud, al-Jashash dan ar-Razi menafsirkan bahwa mengulurkan jilbab adalah menutup wajah, tubuh dan kulit dari pandanan orang lain yang bukan keluarga dekatnya (wahbah, II/108)
Dalam al-qur’an ada dua ayat yang melegalkan pewajiban jilbab,pertama surat; al-ahzab ayat 59, yang kedua surat;an-nuur ayat 31.
Pertama,surat al-ahzab ayat 59 “wahai nabi katakanlah pada istri-istrimu,dan anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang muslim,hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.hal itu agar mereka mudah di kenal “.Mengenai latar belakang turunnya ayat ini. Satu diantaranya, disampaikan Ibnu Sa’ad dalam bukunya al-Thabaqat dari Abu Malik. Katanya, “Suatu malam, para isteri Nabi Saw keluar rumah untuk memenuhi keperluannya. Saat itu, kaum munafiq menggoda dan mengganggu (melecehkan) mereka. Mereka mengadukan peristiwa itu kepada Nabi. Ketika Nabi menegur kaum munafiq itu berkata, “Kami kira mereka perempuan-perempuan budak.” Lalu turun surat al-Ahzab ayat 59 (Wahbah, II/107). Ibnu Jarir at-Thabari, guru para ahli tafsir, menyimpulkan ayat ini sebagai larangan menyerupai cara berpakaian perempuan-perempuan budak.
Satu hal, perlu dicatat bahwa seruan mengenakan jilbab, sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, dimaksudkan sebagai cara untuk memperlihatkan identitas perempuan-perempuan merdeka dari perempuan-perempuan budak. karena, dalam tradisi Arab ketika itu, perempuan-perempuan budak dinilai tidak berharga. Mereka mudah menjadi sasaran pelecehan kaum laki-laki. Status sosial mereka juga direndahkan dan dihinakan. Berbeda dari kaum perempuan merdeka. Dengan begitu, identifikasi perempuan merdeka perlu dibuat agar tidak terjadi perlakuan yang sama dengan budak. Istilah merdeka dimaksudkan agar mereka tidak menjadi sasaran pelecehan seksual laki-laki. Ini sangat jelas disebutkan dalam teks ayat.
Sampai disini, pertanyaan kritis agaknya perlu dikemukakan. Kalau jilbab digunakan sebagai pencirian perempuan merdeka, bagaimana pakaian yang biasa dikenakan perempuan budak ? Abdul Halim Abu Syuqqah mengisyaratkan bahwa kaum perempuan Arab pra Islam sebenarnya biasa mengenakan pakaian dengan berbagai bentuk atau mode. Ada yang memakai cadar dan sebagainya. Beberapa bentuk dan mode pakaian yang dikenakan kaum perempuan Arab saat itu, berlaku bagi perempuan merdeka dan perempuan budak. Ketika Islam datang, mode dan bentuk pakaian yang menjadi tradisi masyarakat Arab jahiliyah masih diakui. Tetapi, ada dugaan kuat, seruan pemakaian jilbab terhadap perempuan-perempuan mukmin yang merdeka, mengindikasikan perempuan budak tidaklah mengenakan jilbab. Atau mereka mengenakannya, tetapi tidak mengulurkannya sampai menutup wajahnya. Tidak berjilbabnya perempuan budak masuk akal, karena tugas-tugas berat mereka untuk melayani majikannya.
Atas dasar itu, surat al- Ahzab 59, tampaknya hanya membicarakan ciri khusus pakaian perempuan merdeka, yang membedakannya dari pakaian perempuan budak. Ciri itu adalah jilbab. Jadi, ayat ini secara lahiriah, serta didukung latar belakang turunnya, hanya membicarakan jilbab sebagai ciri perempuan merdeka, untuk membedakannya dengan perempuan budak. Ayat ini tidak membicarakan aurat perempuan.
Wahbah juga mengatakan, jilbab merupakan pelengkap kewajiban menutup aurat. Ini adalah tradisi yang baik, untuk melindungi perempuan dari sasaran pelecehan laki-laki (Wahbah, II/108). Ketika seorang muslimah merdeka menyatakan tidak mempunyai jilbab untuk sholat ‘id, Nabi mengatakan, hendaklah temannya mengenakan jilbabnya kepada dia”. Mengomentari hadist ini, al-Kasymiri dalam Faidh al-Bari mengatakan,” Dari sabda Nabi ini, diketahui bahwa memakai jilbab hanya dituntut ketika perempuan keluar rumah.” Abu Syuqqah mengatakan, perintah Nabi di atas menunjukkan jilbab bukanlah pakaian pokok untuk menutup aurat. Ia (perempuan itu), hanya memerlukan ketika keluar rumah, khususnya ketika akan buang air di malam hari dan ketika akan sholat jama’ah (Abdul Halim, IV/59).Bila jilbab menjadi pembeda perempuan merdeka dari budak, sedang budak sudah tak ada lagi, maka pemakaian jilbab saat ini tidak menjadi keharusan lagi, tetapi juga tak dilarang. Apalagi jilbab hanya sebagai assesoris atau sebagai pelengkap sebagaimana yang dikatakan Wahbah diatas. Itulah logika kausalitas.
Kedua, surat an nuur, ayat;31 berbunyi “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Ada beberapa poin penting yang tersurat maupun tersirat dari ayat tersebut. Beberapa di antaranya agak ”nyeleneh” sehingga membutuhkan penalaran dan analisis yang logis untuk memahaminya. Karena memang seperti juga ayat-ayat lainnya, Allah ta’ala sengaja tidak membuka dan membeberkan segalanya secara gamblang serta terbuka untuk memancing penalaran dan pemikiran kita agar mampu menganalisis secara jernih dan cerdas.
Poin penting pertama ada pada kalimat, ”Hendaklah mereka menahan pandangannya.” Kalimat tersebut dapat dipahami secara jelas bahwa seorang wanita seharusnya bisa menjaga pandangan matanya. Seperti kita ketahui bersama, sorot mata atau pandangan dari seorang wanita dapat memberi maksud tertentu dan diartikan lain bagi lawan jenisnya. Hal itu dapat saja kemudian disalahgunakan atau mendorong pada hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi sangatlah wajar bila Allah menghimbau agar para wanita menjaga dan menahan pandangannya.
Poin kedua terdapat pada kalimat, ”hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” Menurut asal usul sejarahnya, perempuan Arab kala itu mengenakan jenis pakaian yang relatif terbuka pada bagian (maaf) dadanya. Kita juga tahu bahwa laki-laki Arab (bahkan hingga kini) mempunyai nafsu seksual yang relatif besar dan menggebu-gebu. Himbauan untuk menutupkan kain hingga ke dada dimaksudkan untuk tidak memancing nafsu laki-laki Arab kala itu sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. Bahkan, perempuan Arab kala itu juga disarankan untuk tidak bepergian ke luar rumah karena alasan tersebut.
Kemudian, kalimat ”janganlah menampakkan perhiasannya” juga perlu mendapat perhatian. Kata ”perhiasan” yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang dimiliki oleh seorang wanita dan dibanggakan. Perhiasan tersebut misalnya paras wajah yang cantik, mata yang indah, hidung, bibir, rambut, jari-jemari, pergelangan tangan, betis, (maaf) payudara, dan seterusnya. Perhiasan tersebut seharusnya dijaga dan dilindungi, kecuali pada orang-orang yang disebut pada kalimat selanjutnya.
Sementara itu, titik kritis dari ayat tersebut ada pada kalimat, ”pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)”. Jika pada kalimat sebelumnya disebutkan kata-kata suami, putra, ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, budak, atau anak-anak, mengapa kemudian Allah menyebut juga kata pelayan laki-laki yang relatif tidak mempunyai kedekatan atau hubungan darah dibandingkan dengan misalnya suami, putra, ayah, atau saudara laki-laki dan perempuan.
Pada bagian ini, ”pelayan-pelayan laki-laki” sesungguhnya dapat merujuk pada suatu kaum, golongan, atau bangsa yang kaum laki-lakinya relatif menghargai dan menghormati kaum wanita, misalnya di negara-negara Asia,khususnya di Indonesia. Di negara ini, relatif kaum laki-lakinya dapat menghargai wanita dengan baik, bersikap santun terhadap lawan jenis, dan tidak mengumbar nafsu seksualnya secara serampangan.
Memang harus dibedakan antara aurat untuk sholat (ibadah) dengan aurat untuk golongan (pergaulan). Aurat untuk sholat sudah jelas dan tidak perlu diulas. Sementara aurat untuk mu’amalah (pergaulan) adalah aurat sesuai dengan etika atau nilai yang dianut oleh golongan tersebut. Misalnya di Indonesia, saya menilai bahwa mengenakan pakaian menutupi dada, pusar, hingga lengan tangan dan lutut kaki relatif bisa dipandang sopan, wajar, dan menutup aurat. Tapi untuk kondisi di Arab, mengenakan pakaian semacam itu belum tentu ”aman”.
Jadi, apakah memakai jilbab itu wajib atau tidak ?pembaca bisa menyimpulkan sendiri.Tapi yang jelas,tidak mengenakan jilbab pun sesungguhnya tidak diharamkan dan bukan alternatif utama,(tentunya penulis tidak bermaksud menolak jilbab apalagi setuju dengan wanita yang mempertontonkan auratnya). justru dengan memaksa orang lain untuk berjilbab atau memusuhi mereka bahkan mengkafirkan itulah yang diharamkan.
Hanya saja, mengenakan jilbab bagi seorang wanita bisa mengangkat martabat dirinya. Bagi dirinya sendiri, mengenakan jilbab juga bermanfaat sebagai sistem kontrol karena dirinya secara otomatis dituntut untuk bisa selalu menjaga sikap dan perilakunya secara Islami. Selain itu, laki-laki pun umumnya menjadi sungkan/segan untuk menjahili atau berbuat yang bukan-bukan pada wanita yang berjilbab.wallahu’alam

1 Comment »

  1. logik tapi perlu disadur dari hadits, bukan pendapat personal.

    Comment by firman — April 26, 2007 @ 5:47 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: