BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

April 3, 2007

UMAT ISLAM DEWASA INI

Filed under: Arsif PPMI CAIRO — supraptoe @ 4:33 am

Oleh: Abbas Mansur Tammam, MA.

Berbicara tentang kondisi umat islam dewasa ini, kita terpaksa harus menelan pil pahit . Tetapi sebagaimana pil yang pahit seringkali menjadi wasilah untuk sembuhnya penyakit seseorang, mudah-mudahan Allah menyembuhkan penyakit ketidakberdayaan yang sedang diderita oleh umat ini. Karena ada indikasi yang membuat umat ini bisa dikatagorikan sakit. Tapi juga indikasi-indikasi lain menunjukkan banyak harapan umat akan bangkit dari ketidakberdayaannya dalam waktu dekat.

Umat islam dimana-mana sedang menghadapi serangan yang membabi buta dalam segala hal lini kehidupan mereka. Diantaranya adalah serangan fisik yang ditandai dengan ekspansi militer oleh Amerika dan sekutunya (Inggris dan Zeonis) ke Afganistan, Irak, Palestina dan intimidasinya atas Syiria, Iran, Sudan dan lain-lain, juga aneksasi yang dilancarkan oleh Rusia atas Negara-negara pecahan Unisoviet, atau penjajahan Cina atas Turkistan Timur. Pada posisi yang sama serangan Baratyang materialistic dan permisikatas kebudayaan dan sistem nilai Islam yang teramat dasyat. Karena itu, diskursus pemikiran modern di tengah tubuh umat islam dewasa ini sarat dengan muatan-muatan westernisasi, sekulerisasi, bahkan kristenisasi…

Tetapi pribahasa mengatakan “Semakin ditentang semakin memebentang”, demikian juga dengan kodisi umat Islam dewasa ini. Terjadi arus lonjakan revivalisme luar biasa dalam tubuh umat Islam, baik menyangkut intensifikasi kehidupan dan pemahaman keislaman, sampai ekstensifikasi wilayah garapan umat dalam dunia public, bahkan penyebaran Islam bagi para penganut agama lain. Besar harapan, kondisi semacam ini menjadi fenomena awal untuk sebuah kebangkitan yang sesungguhnya, seperti yang diprekdiksi oleh Rosulullah SAW, Bahwa umat Islam ini akan kembali ke system nubuwah, setelah menjalani masa-masa fitnah yang berkepanjangan.

Untuk itu tulisan sederhana iniakan mengelaborasi tiga hal. Pertama: Potensi-potensi yang dimiliki umat Islam. Kedua: Problema umat baik internal maupun eksternal untuk mencari akal permasalahan, apa sesungguhnya yang terjadi dengan umat Islam dewasa ini. Ketiga: Solusi dari berbagai problema ini. Bagaimana kita harus bersikap agar bisa menyumbangkan sesuatu yang berarti untuk kemajuan, kebangkitan dan kejayaan agama kita.

I. Potensi umat
Ada beberapa hal yang menjadi potensi kemajuan dan keluhuran umat ini. Beberapa hal diantara sebagai berikut:

1. Syariat Islam
Allah SWT telah menganugerahkan nikmat yang luar biasa bagi umat ini, yaitu syariat-Nya yang sempurna dan menyeluruh. Ketika Muhammad SAW, akan mengakhiri kerasulannya, ketika ia dan para sahabanya menunaikan haji wada’. Allah menurunkan sebuah pengukuhan: “Pada hari ini telah aku sempurnakan kalian, dan telah aku sempurnakan nikmat-Ku, dan aku ridho Islam sebagai agama kalian”. (15:9)

Betapa berharga nilai pengukuhan ini. Karena itu kita berbangga sekaligus bersyukur, Allah menganugerahkan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita menjadi muslim. Diriwayatkan, sepeninggal Rosulullah SAW. Seorang yahudi datang kepada Umar bin Khattab dan berkata: “Ada sebuah ayat dalam agama Anda, jika ayat itu turun kepada kami, maka akan kami jadikan waktu turunnya sebagai hari raya”. Umar menjawab: “Sungguh aku tahu apa ayat itu, kapan dan dimana ia turun”. Ayat itu turun pada waktu dan tempat yang amat suci. Ia turun pada hari jum’at, pada waktu wuquf Arafah saat Rosul dan para sahabatnya menunaikan al-hajju’l akbar.

Syariat yang sempurna dan paripurna ini tentu menjadi potensi kemajuan yang amat dahsyat. Karena sejarah kemanusiaan telah mencatatupaya-upaya humanisme dimulai dari para filsuf Greece sampai kea bad ini, untuk mengkaji dan memformulasikan tata nilai dalam kehidupan. Mereka berusaha keras memikirkan siapa dan bagaimana Tuhan yang telah menciptakan jagat semesta ini, dan bagaimana hukum yang bisa menata kehidupan sehingga bisa menciptakan kedamaian, kehidupan yang aman dan sentosa, hingga mendatangkan kebahagiaan bagi umat manusia. Tetapi hasilnya nihil.

Ali Syariati menilai bahwa filsafat barat dan metafisika pada khususnya adalah bentuk kongkrit kekanak-kanakan bangsa yang tidak mendapat tuntunan dari langit. Mereka terpaksa harus bekerja keras untuk berkhayal dan mereke-reka jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar dalam hidup manusia: Dari mana dia datang? Kenapa dia datang? Dan ke mana dia akan pergi? Sesuatu yang sangat sempurna disuguhkan Allah SWT kepada kita dalam aqidah dan syariat agama yang kita anut.

Karena itu, bentuk kebanggaan dan kesyukuran atas nikmat Iman dan Islam kita adalah upaya yang serius untuk semakin intensif mengkaji kandungan Islam (Aqidan dan Syariat), menghayati nilai-nilai itu agar pemahaman kita semakin terpatri dalam akal dan nurani kita. Mudah-mudahan Allah memberi taufiq-Nya sehingga pemahaman tentang Islam itu berbuah ke dalam amal sholeh. Kita berlindung kepada Allah, agar kedatangan kita di bumi al-Azhar ini tidak menjadikan babak baru untuk sebuah proses orientalisasi diri kita: Semakin informasi yang digali tentang Islam, tetapi semakin jauh jarak antara kita dengan Allah. Wal’iyadzu billah, bahkan semakin dalam kebencian kita kepada agama yang dikukuhkan sebagai agama yang paripurna dan diridhoi Allah ini.

2. Jumlah Umat Islam
Manusia tentu memiliki kecenderungan untuk memilih yang terbaik, dari setiap opsi yang ada di hadapannya. Dan Islam yang telah dinash Allah sebagai satu-satunya agama yang sempurna ini tentu menjadi pilihan utama bagi siapa saja yang paham dan mendapatkan hidayah Allah. Karena itu, sampai saat ini Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas umat manusia di jagat semesta ini.

Di awal abad ke 15 H, PBB menyebut hanya ada 827 juta jiwa muslim di seluruh dunia. Sepertiga dari mereka hidup sebagai minoritas di bawah rezim komunis, pagan (watsani) dan Kristen. Dan dua pertiga lagi hidup di 40 negara merdeka. Tetapi Syekh Muhammad Al-Ghazali mensinyalir ada manipulasi atas sensus muslim dunia. Bahwa angka itu di distorsi oleh rezim dunia yang tidak suka dengan jumlah populasi muslim, pasalnya, banyak negara mayoritas muslim dikuasai oleh rezim Kristen, dan diklaim sebagai negara dengan Muslim dengan minoritas, dan dengan gerakan kristenisasi yang membabi-buta. Sebuah contoh: Sinegal (Muslim 95%), dan Tanzania (Muslim 85%) ada di bawah rezim Kristen. Gana dan Sudan Selatan diklaim sebagai mayoritas Kristen, padahal jumlah Kristen hanya 15% dan 20% saja. Karena data Muslim sesungguhnya kata Syekh Al-Ghazali lebih dari satu milyar jiwa (Al-Ghazali, 1983).

Yang ingin disampaikan oleh data ini, umat Islam memilki potensi kekuatan yang luar biasa dan belum terberdayakan secara optimal. Karena subyek paradapan adalah manusia, maka selain membutuhkan kwalitas sumber daya manusia yang tangguh, umat juga menuntut jumlah yang besar. Umat Islam di belahan bumi manapun memiliki tingkat pertilitas (kesuburan) yang menakjubkan, sesuatu yang ditakutkan oleh bangsa Barat (Kristen) dan Yahudi. Karena itu maka dunia memaksakan pembatasan kelahiran yang sangat ketat bagi dunia ketiga, dan umat Islam pada khususnya, banyak negara di Eropa yang berada di ambang kepunahan, karena tingkat kesuburan yang sangat rendah.

Kita optimis, Pemeluk Islam sampai hari kiamat akan menjadi umat terbesar. Sesuai dengan prediksi Rosulullah SAW dalam sabdanya: “Nikahilah perempuan yang subur, karena sesungguhnya aku akan bangga sebagai Nabi yang memilki umat terbesar di hari kiamat”. Tetapi yang menjadi tantangan peradaban di abad ini adalah bagaimana mengangkat harkat dan martabat sumber daya manusia yang sangat besar itu. Dan kita harus menjadi bagian dari solusi atas problem rendahnya kwalitas sumber daya manusia Muslim di abad ini. Karena pemecahan atas problem ini adalah gerbang untuk menyelesaikan persoalan umat secara global.

3. Kekayaan Alam
Kita bersyukur bahwa keimanan kepada Allah, dengan segala kekurangannya, masih diperlakukan oleh Allah sebagai hamba-hamba-Nya yang sholeh, dank arena itu mendapatkan status sebagai pewaris bumi dengan segala kejayaan yang dikandungnya.

“Dan sesungguhnya telah kami putuskan dalam zabur setelah kami putuskan dalam al-Dzikr, bahwa bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang sholeh” (Al-Anbiya’: 105).

Dari status yang terhormat sebagai hamba-hamba-Nya yang sholeh ini, maka suber daya alam dunia: Minyak dan barang tambang lain, 65% dari seluruh cadangan dunia terkonsentrasi di negara-negara Muslim. Kondisi ini yang kemudian membuat kenyataan yang tragis dalam sejarah kemanusiaan. Sejak umat ini mengalami kemunduran maka harta kekayaan yang dimiliki umat ini menjadi objek yang perebutkan oleh musuh-musuhnya. Penjajahan atas dunia Islam terjadi sejak empat abad yang lalu, sampai hari ini. Hampir setiap jengkal bumi Islam pernah dijajah oleh musuhnya, sebagiannya masih dijajah, sebagiannya baru dijajah kembali. Karena itu, nikmat Allah yang melimpah ruah itu hanya dinikmati oleh orang-orang yang menjadi musuhnya. Tidak karena umat ini minoritas, tetapi karena bobot sumber daya manusianya sepertin buih: Banyak tapi tak berharga. Itu terjadi karena umat ini terinfeksi sebuah penyakit yang disebut dengan wahan. Gejalanya adalah cinta dunia dan takut mati.

4. Janji Allah
Tetapi walaupun begitu, sunnatullah telah menggariskan bahwa akan selalu ada di setiap ruang dan waktu sekelompok umat umat yang selalu memperjuangkan tegaknya panji Allah di muka bumi. Tidak lekang dengan ancaman orang-orang yang menghinakannya, dan mereka tetap komitmen sampai datang kepastian Allah: Kesyahidan atau kemenangan. Karena itu, kemenangan bagi umat ini adalah janji Allah yang pasti terbukti. Ketika syarat-syarat datangnya pertolongan Allah itu terwujud dalam jasad umat ini.

Tentu saja, tidak sulit bagi Allah untuk mendatangkan kemenangan itu kapan saja. Karena “Allah memiliki bala tentara langit dan bumi, dan dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana” (Al-Fath: 7). Persoalannya adalah apakah jumlah dan tingkat kesungguhan para pejuang agama Allah itu sebanding dengan volume yang dihadapi atau tidak, sehingga janji Allah layak segera datang? Jika jawabannya positif, jika berhah optimis karena ” Rosul dan orang-orangnya berkata: Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat” (Al-Baqoroh:214).

Ayat itu seyogyanya membuat optimisme, betapapun musuh-musuh Islam semakin hari semakin merasuk, menggerogoti umat, Allah pemilik langit dan bumi tetap bersama kita. “Dialah yang telah mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agam yang benar, agar dia memenangkannya dia atas segala agam –agama, meskipun orang-orang musyrik benci” (As-Shaf).

5. Sejarah
Karena itu, kemenangan bukan sebuah utopia yang tak pernah terwujud. Sebaiknya sejarah menjadi saksi,bahwa ketika umat Islam serius menjalankan keislamannya, Allah telah mengukuhkannya sebagai umat terbaik yang hidup di jagat semesta ini. “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dihadirkan untuk manusia, kalian mengajak untuk berbuat baik, dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah” (Ali Imron:110).

Sejarah telah menyuguhkan fakta, bahwa dalam kuru yang tak sebentar gelombang peradapan Islam telah mengembangkan sayapnya, menjadi guru bagi seluruh umat manusia. Sejak agama ini diturunkan dan umatnya meniti tangga-tangga peradapan,umat Islam telah berdiri tegak seperti layaknya mercusuar: Menerangi kegelapan uamat manusia. Dalam lanskap lebih dari 13 abad, secara formal umat memilki paying kekuasaan yang menjadikan Islam sebagai mainstream seluruh tatanan kehidupannya. Baru 81 tahun saja (Sejak 1924) umat kehilangan bangunan negara yang kokoh itu. Satu hal yang semestinya tidak menghilangkan optimisme akan datang masa-masa kegemilangan kembali sejarah Islam.

Maka, selayaknya kita mengkaji ulang sejarah kita lebih dekat. Tentu daripada pendahulu kita yang memilki niat bek terhadap masa lalu dan masa depan umat, tdak dengan kacamata orang-orang yang tidak menyukainya. Sepatutnya lebih intensif lagi menganalisa fakta-fakta sejarah, agar kita bisa bersikap bagaimana harus menghadapi kenyataan yang ada di hadapan kita. Dari realitas itu pula mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang terlibat merekayasa masa depan umat. Karena sejarah kata Ibn Khaldun adalah:

“Disiplin yang bergulir di setiap bangsa dan negeri, dzohirnya tidak lebih dari berita tentang perjalanan hari, negara dan abad-abad yang lalu, tetapi di balik itu terdapat teori, fakta dan rahasia mendalam tentang hukum perjalanan alam semesta. Di situ dapat disingkap mengapa periustiwa-peristiwa sejarah terjadi. Karena itu sejarah ada di jantung filsafat” (al-Muqadimah, hal.2).

Sedemikian penting sejarah bagi kita, karena ia meyuguhkan hukum keserupaan (qonub al-tamatsul). Bahwa umat manusia kapan dan di mana pun memilki watak dan tabiat yang sama. “Demikian fitrah Allah yang telah Ia ciptakan untuk manusia, tak ada perubahan dalam ciptaan Allah” (al-Rum: 30). Maka suatu sebab yang telah mengakibatkan peristiwa histories, akan membuat peristiwa yang sama jika sebab itu ada di hari ini. Mustahil sebab yang sama kemudian membuat peristiwa yang berbeda.

Karena itu, sejarah adalah percontohan. Dalam konteks ini, sejarah telah mencatat bagaimana Rosulullah SAW, para sahabat dan salafu al-sholeh berjuang dan mendapatkan pertolongan dari Allah. Sejarah juga mencatat bagaimana kemenangan itu dipertahankan, dekembangkan sehinggan menuai kecemerlangan. Sejarah telah memformulasikan teori kebangkitan dan kemunduran umat. Tugas kita sekarang adalah mensikapi problem keterbelakangan itu dengan memobilisasi seluruh potensi kemajuan yang dimiliki oleh agama dan umat ini, dengan mencontoh pengalaman sejarah kita. Mudah-mudahan sebagaimana Allah menurunkan pertolongannya kepada mereka, pertolongan yang sama diturunkan oleh Allah kepada kita.

II. Problematika Umat Islam

Tetapi jika sebegitu besar potensi kekuatan yang dimilki oleh umat ini, maka sesungguhnya ia fi ma’zaq, sedang berada pada posisi sulit. Kesulitan itu didukung oleh dua sebab: Internal dan eksternal.

1. Problematika Internal
Problematika ini dibangun di atas hipotesis bahwa persoalan internal yang dihadapi oleh umat Islam tidak menyangkut kelemahan agamanya, tetapi menyangkut interaksi umat dengan agamanya. Kita sangat yakin, agama yang dijamin kesempurnaanya oleh pemilik langit dan bumi, mustahil membuat umat manusia regresif dan sengsara. Karena itu, ajaran-ajarannya mustahil mandek dalam menghadapi tantangan ruang dan waktu, karena ruang dan waktu juga diciptakan oleh Allah. Islam akan selalu berjalan sesuai dengan fitrah manusia. “Tegakkanlah wajahmu dengan agama yang hanif, Ia adalah fitrah Allah yang dengannya Ia menciptakan manusia, tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang luhur, tetapi kebanyakan orang tidak tahu” (Rum: 30). Pada waktu yang sama, “Tak ada satu ruang pun dari kehidupan yang kami tinggalkan dalam al-Kitab ini” (al-An’am: 38).

Tetapi jika Islam mengurus segala persoalan hidup, tetapi tidak seluruh persoalan diambil secara leterlek dari al-Qur’an. Sebaliknya, ia membutuhkan upaya yang aktif dan dinamis. Maka jika Abu Bakar Ra. Berkata: “Tidakkah aku kehilangan ikat keledaiku, kecuali aku temukan dalam Kitab Allah”, ia harus dipahami dalam konteks kisah Muhammad Abduh.

Konon Abduh pernah ditantang oleh ilmuwan di Paris. Dalam dialog itu sang ilmuwan menyampaikan keanehannya, bagaimana mungkin al-Qur’an yang memilki ayat-ayat terbatas berbicara tentang seluruh dimensi kehidupan yang tak terbatas. Maka ia meminta Abduh untuk berbicara tentang konsep al-Qur’an tentang membuat roti, jika klaim itu betul. Abduh kemudian meminta izin memanggil tukang roti terbaik di Paris, dan meminta penjelasan tentang membuat roti. Setelah selesai, kemudian ia menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, persis seperti yang dijelaskan oleh tamunya. Ketika diprotes bahwa itu konsep tukang roti bukan dari al-Qur’an, ia menjawab dengan enteng: Dalam al-Qur’an kami mendapatkan konsep ini: “Tanyakanlah kepada ahlinya, jika kalian tidak mengetahui suatu hal” (an-Nahl: 43).

Karena itu, tidak saja umat Islam diharuskan untuk lebih dekat dengan sumber-sumber agamanya, lebih dari itu berkewajiban melakukan interaksi yang kreatif dengannya. Maka, ada beberapa hal yang membuat ketertinggalan umat ini dengan bangsa-bangsa lain, diantaranya:

a. Jauh dari al-Qur’an dan sunnah

Persoalan yang mendasar dari umat ini adalah keterasingannya dari al-Qur’an dan sunnah. Keterasingan itu dapat digambarkan dengan beberapa pertanyaan ini. Berapa persen dari semilyar umat Islam yang bisa membaca al-Qur’an? Dari yang bisa baca, berapa persen diantaranya yang mampu memahami al-Qur’an? Dan dari yang mampu, berapa persen diantaranya yang sanggup mengamalkannya? Dan dari yang sanggup mengamalkannya, berapa persen yang diantaranya yang itqon dalam beramal dan mampu melakukan kreasi, membuat injazat ilmiah sehingga menyumbangkan sesuatu yang baru bagi peradaban ini? Pertanyaan yang serupa dapat kita ajukan untuk sunnah. Jika kita ajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada diri kita, sebagai umat elit yang terdidik secara Islam dalam level yang tinggi, ketika itu kita bisa mengukur kondisi umat secara makro.

Jika jawaban atas pertanyaan itu jauh dari standar kelayakan sebagai kaum terdidik, maka apalagi orang-orang yang jauh dari pendidikan Islam. Dan ini adalah realitas yang diadukan oleh Rosulullah kepada Tuhannya: “Dan Rosul pun berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an init terasing” (al-Furqon: 30). Keterasingan ini juga terjadi pada Sunnah Rosulullah, dan ini yang membuat umat ini sakit. Bagaimana tidak, apdahal Rosulullah saw, bersabda: “Aku tinggalkan dua hal, selama kalian memegang teguh dua hal itu, yakin kalian tak akan tersesat. Adalah Kitab Allah dan Sunnah Rosul-Nya”.

b. Tidak Paham dengan Islam

Tuntutan utama dari umat ini tidak saja harus dekat dengan al-Qur’an dan Sunnah, lebih dari itu harus memahaminya dengan benar. Pemahan yang benar itu amat penting, karena menjadi syarat terlaksananya proyek-proyek keislaman secara benar. Pemahaman itu akan menjaga para aktivis dari salah kaprah dalam menjalankan kerja-kerja pergerakan. Tetapi yang terjadi, pemahaman ini yang minus. Tidak hanya terjadi pada masyarakat awam yang jauh dari pendidikan keislaman, boleh jadi di tengah kelompok terdidik dan alativis sekalipun.

Kelemahan pemahaman di tingkat elit terdidik, seringkali Islam dilihat dari kacamata Barat. Misalnya, pergumulan sejarah eropa dalam berhubungan dengan Kristen yang melahirkan sekulerisme, diadopsi menjadi pola bersikap dengan Islam. Metodologi hermenetika untuk melekukan arkeologi atas teks-teks Bibel, karena disadari baik perjanjian lama maupun baru sarat dengan berbagai kontradiksi, diadopsi untuk kajian yang sama atas nash-nash al-Qur’an. Padahal “Syattanuma bainal Islam wal wasihiyah, wa baina al-anajil wa al-Qur’an”.

Kelemahan di tingkat para aktivis Islam juga tidak lebih ringan ketimbang pembiasaan yang terjadi pada kaum elit yang terbaratkan. Betul bahwa dalam tingkat praksis umat membutuhkan lebih banyak orang-orang yang bekerja dengan penuh keikhlasan untuk menegakkan risalah Allah di muka bumi. Tetapi beramal dan ikhlas saja tidak cukup, ia membutuhkan ilmu. Karena, salah-salah bermaksud nahyil munkar, malah membuat kemungkaran yang lebih besar. Bahkan bisa tak sadar, sesungguhnya ia sedah diperalat oleh orang-orang yang menjadi musuhnya. Karena itu, Rosulullah SAW, pernah membuat ilustrasi tentang keikhlasan bloon.

Diilustrasikan, umat Islam adalah komunitas yang sedang mengarungi samudra luas, di atas kapal. Mereka ada yang tinggal di dek bawah, ada yang di atas. Orang-orang yang duduk di bawah, ketika ingin mengambil air terpaksa harus naik ke atas dan sangat mungkin mengganggu ketentraman orang atas. Muncul perasaan tak enak, tenggang rasa. Daripada mengganggu orang lain, lebih baik lubangi saja bawah kapal dan mereka bisa leluasa mengambil air laut tanpa harus mengganggu orang atas, jika ulah itu tak dihentikan, maka seluruh komunitas kapal akan tenggelam.

Karena itu yang dibutuhkan adalah pemahaman clear tentang Islam dan bagaimana harus bekerja. Pemahaman itu harus diambil dari sumbernya yang asli, dan dengan pendekatan yang disepakati keabsahannya oleh para ulama. Pemahaman ini kemudian diaplikasikan ke dalam dunia nyata dengan mempertimbangkan berbagai fiqih yang berkaitan dengan amal Islam (Fiqih muqashid, fiqih aulawiyat, dan sebagainya). Jika tidak, dia menyangka sudah berbuat banyak untuk agama ini, tetapi yang terjadi sebaliknya. Karena itu, Umar bin Abdul Aziz berkata: “Orang yang bekerja tidak didasari dengan ilmu, sesungguhanya ia lebih banyak merusak daripada melakukan islah”.

c. Terpecah belah

Dari ilustrasi tadi, sesungguhnya komunitas Muslim di mana pun berada adalah satu kesatuan. Mereka berada dalam lingkungan ukhuwah, yang diikat oleh tali aqidah yang amat kuat. Tetapi dalam tataran ril, umat terkapling-kapling oleh banyak skat. Dalam tingkat supra-struktur umat dipecahkan oleh negara-negara bangsa. Masing-masing nation-state hanya berfikir untuk kepentingan bangsanya, meski harus merampas hak dan martabat bangsa lain, yang boleh jadi mereka saudaranya seiman. Dalam tingkat yang lebih rendah, umat dikapling oleh perbedaan sekte, ormas, kelompok-kelompok kepentingan dan sebagainya. Ukhuwah kemudian menjadi sangat rapuh, sehingga dalam tataran praktis umat Islam seringkali memilih pragmatisme, bekerja sama dengan siapa saja asal secara politis atau materil bisa memenangkan persaingannya dengan kelompok lain. Dalam konteks yang lebih parah, untuk kepentingan materi dan popularitas orang siap untuk berkonfrontasi dengan sesama Muslim.

Dalam konteks ini, umat perlu mengevaluasi fiqih ukhuwah dan konsep al –wala wal barra’ dalam Islam. Dengan siapa dan dalam konteks apa pihak-pihak non-Islam bisa diajak kerja sama, dan bagaimana bisa mengentalkan toleransi dalam menyikapi perbedaan-perbedaan dengan sesama Muslim. Sehingga bisa saling kerja sama dalam segala hal yang menjadi point kesepakatan, dan saling memahami dalam hal-hal yang diperselisihkan.

d. Ketinggalan Ilmu dan Teknologi

Kita menyadari terjadi kesenjangan yang amat dalam antara dunia Islam dan bangsa-bangsa Barat di dalam bidang ilmu dan teknologi. Sekedar obat dari apatisme di bidang ini, sungguh umat Islam pada masa kegemilangannya menjadi sumber inspirasi bagi kebangkita Barat. Jika sekedar mahasiswa mahasiswi berjibun memadati bangku kuliah di universitas-universitas Barat, dulu mereka yang berduyun-duyun memadati universitas-universitasIslam di Cordova, dan kota-kota lain di Andalusia. Dari tangan mahasiswa-mahasiswi itu, Eropa berhasil dibebaskan dari abad kegelapan yang membelenggunya lebih dari sepuluh abad. Dari kenyataan ini Filsuf Gustav Lebon terpaksa berterus terang bahwa “Eropa tidak mengenal kemajuan, kecuali setelah bertemu dengan umat Muhammad”.

Tentang kenyataan sekarang kita lebih menjadi kosumen ilmu dan teknologi. Lebih menyedihkan lagi, konsumsi yang hanya diperoleh dengan ongkos yang amat sangat mahal itu hanya membuat kesengsaraan umat manusia. Karena itu sekarang umat dipaksa bekerja ekstra, buakn hanya melakukan alih ilmu dan teknologi, lebih dari itu adalah bertugas restrukturisasi paradigma science dan teknologi sehingga beroriantasi nilai: Dari bebas nilai menjadi sarat nilai. Dan ini yang menjadi inti gagasan Islamiyatul ma’rifah (Islamisasi science).

e. Rendah Diri

Tetapi bagi banyak kalangan gelombang surut peradaban Islam ini menjadikan dirinya rendah diri, minder sebagiu Muslim. Mereka melihat Barat maju di bidang kebendaan adalah segalanya. Baginya, setiap penyakit yang diderita jasad umat ini obanya hanya ada di apotek peradaban Barat. Lebih parah lagi muncul sebuah frustasi yang akut: Tak ada sesuatu yang diandalkan dari agama ini untuk menjadi modal kebangkitan umat, kecuali harus mencangkok paradaban Barat dan ditanam apa adanya di negeri-negeri Muslim. Barat harus diambil apa adanya: Manis pahitnya, dari harum parfum sampai bau ketiaknya.

Kondisi psikis ini sesungguhnya bukan sesuatu yang syadz dalam cara berfikir manusia, hanya ia menunjukkan mentalitas yang rendah dan tidak bermartabat. Ibn Khaldun menyebutnya dengan istilah al-din al-ghalib.Bahwa orang yang kalah cenderung terperdaya dan bangga meniru segala hal dari orang yang menang: Bahasa , pakaian, agama dan seluruh perilakunya. Di saat itu, ia lupa dengan jati diri dan potensi kemajuan yang dimiliki oleh agama, kebudayaan dan peradabannya.
Mereka juga lupa bahwa “Izzah (keagungan dan kekuatan) itu hanya milik Allah, Rosul-Nya, dan orang-orang yang beriman” (al-Munafiqun: 8), bukan milik orang-orang yang tidak percaya denagn Allah, betapa pun mereka memiliki dunia dengan segala isinya. Karena sabda Rosul: “Andai dunia dengan segala isinya, di sisi Allah sebanding dengan sayap seekor nyamuk, pasti orang-orang tak akan punya jatah seteguk air minum pun”. Dan jika menemukan rasa minder itu dalam diri kita, sedikit atau banyak, saatnya kita mereformasi keimanan kita. Karena “Janganlah kamu merasa hina dan bersedih, karena kalianlah orang-orang yang tinggi derajatnya, jika kalian orang-orang yang beriman” (Ali Imron: 139).

2. Problematika Eksternal

Problematika internal itu sesungguhnya merupakan inti masalah yang dihadapi umat. Karena problematika eksternal akan menjadi ancaman, manakala umat tidak memilki imunitas, kekebalan tubuhnya. Dalam kondisi ini, virus serangan apapun akan menggerogoti kesehatan umat. Dalam kondisi itu pula, ada ataupun tidak ada ancaman dari luar, kondisi tubuhnya memang tidak sehat. Malik Bin Nabi menyebut kondisi ini sebagai qobiliyah lil isti’mar (mental siap jajah).

Tetapi mengapa Allah membiarkan hamba-hamba-Nyamenjadi permainan makhluk yang tidak mengakui wujud dan keesaan-Nya? Nampaknya, iradah Allah berkehendak agar pengakuan keislaman kita harus dibuktikan dengan kesungguhan. Karena itu syurga yang dijanjikan Allah tidak bisa dibeli hanya dengan klaim. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang cobaan kepadamu sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan olehberbagai cobaan” (al-Baqarah: 214).

Dalam konteks ini, cobaan Allah datang dalam bentuk pemikiran dan ancaman pisik. Maka muncul yang disebut perang pemikiran (al-ghozw al-fikr) dan perang pisik. Kedua ancaman sebenarnya muncul bersamaan dengan turunnya risalah Islam. Karena Rosulullah SAW, sejak mendapatkan perintah “Dan berikanlah peringatan kepada keluarga dan orang-orang yang dekat Engkau” (al-Syu’ara: 214), spontan mendapatkan perlawanan dari pihak yang tidak menyukainya, baik secara fisik maupun pemikiran.

Tetapi ancaman pemikiran modern terhadap Islam terformulasikan setelah perang salib usai. Bahwa ketika raja Louis ditawan di Ismailia, saat muncul strategi baru dalam menghadapi Islam: Umat Islam tidak diperangi secar fisik, ia harus diperangi oleh gerakan pemikiran. Umat Islam memiliki ketahanan mentalitas yang tidak dimilki oleh bangsa-bangsa lain. Dari situ orientalisme muncul, sebuah gerakan untk mengkaji Islam secara radik, sampai ke akar-akarnya.

Tujuan utamanya: untuk melemahkan spirit yang dimilki umat Islam, Islam harus didekonstruksi sedemikian rupa sehingga agama ini menjadi kehilangan sakralitas dan daya geraknya sebagai ideology. Sehingga umat Islam kehilangan ruh ma’nawiyah-nya, karena itu tidak akan berdaya menghadapi ancaman Barat. Karena itu, sejarah orientalisme memilki hubungan yang paralel dengan imperalisme. Contoh yang paling dekat adalah Snouk Hugronje pada masa penjajahan Belanda untuk Indonesia. Tetapi tentu saja gelombang orientalisme muncul pasang-surut. Tidak setiap produk orientalisme menyerang Islam, tapi juga tidak sedikit yang menyimpan kebencian yang mendalam terhadap Islam.

Dalam waktu yang sangat panjang, gerakan ini memungkinkan untuk melakukan pengkajian yang mendalam tentang Islam. Karena sejalan dengan imperalisme Barat atas dunia Islam, manuskrip-manuskrip yang ada di berbagai pusat kebudayaan di dunia Islam diambil, dan diteliti di berbagai pusat kajian di universitas-universitas Barat. Hasilnya, Barat menjadi tahu persis titik-titik kekuatan dan kelemahan dunia Islam. Atas dasar itu, sejarah modern kembali menyaksikan serangan yang membabi-buta dari peradaban Barat terhadap Islam. Sejalan dengan munculnya asumsi bahwa Islam menjadi ancaman peradaban Barat.

Titik krusial dari Islam di hadapan ilmuwan Barat, mereka memahami bahwa Islam memiliki karakter yang berbeda dari agama-agama lain. Perbedaan itu diantaranya terdapat pada hubungan konstan antara agama dan negara. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara individu dengan Allah semata, tetapi juga mengatur relasinya dengan masyarakat, negara, bahkan hubungan internasional. Titik ini menjadi ancaman karena setiap perlawanan atas gerakan imperalisme di negara-negara Islam bermula dari kesadaran Muslim atas relasi ini.

Maka persoalan utam yang sedang dilakukan oleh Barat dan siapa saja yang terbaratkan dewasa ini adalah meruntuhkan keharmonisan hubungan itu. Wacana yang diangkat adalah Islam sama dengan Kristen. Dogmanya adalah: “Berikan hak kaisar kapada kaisar dan hak Allah kepada Allah”. Maka, wilayah keislaman adalah masjid, seperti halnya wilayah kekristenan adalah gereja. Karena itu umat Islam tidak berhak membawa-bawa agama ke wilayah public, karena ini bebas dari warna agama . Itulah yang disebut dengan sekulerisme.

Bersamaan dengan arus imperalisme ke negeri-negeri Muslim, sesungguhnya secara de fakto Islam telah dipaksa hengkang dari sektor publik ini. Islam telah tercerabut dari akr social, ekonomi dan politik. Tetapi kerhasilan itu saja tidak di anggap cukup. Karena dinilai, pergumulan psikis yang ada dalam bawah sadar umat: masalah Islam tampil kembali ke wilayah itu hanya soal waktu, keyakinan akan kesucian dan kelebihan Islam dari agama-agama lain adalah pesoalan kedua yang sedang dibongkar. Maka dimunculkannya wacana lama bahwa Islam dan agama-agama lain duduk pada kursi yang sama, sama-sama benar. Karena itu kebenaran bersifat relatif, karena kebenaran yang mutlak adalah milik Tuhan. Karena itu pula, setiap agama memiliki hak klaim yang sama. Pada tingkat ini Islam tidak berbeda dengan Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan seterusnya. Dan Allah tidak berbeda dengan Yesus, Yahoa, Sanghiang Widi dan sebagainya, karena tuhan-tuhan itu hanya berbeda nama dengan substansi yang sama. Era ini mereka sebut dengan era lintas agama. Karena itu berislam, berhindu, berkristen, beryahudi memiliki status yang sama di sisi Tuhan. Inilah yang mereka sebut dengan pluralisme agama.

Tetapi tentu saja, klaim itu tidak sederhana. Umat Islam memiliki sensitivitas keberagaman yang cukup tajam, dan karena itu pluralisme tidak semata-mata mendapatkan tempat di akal dan nurani umat.Ia mendapat perlawanan. Maka dalam merebut ruang yang leluasa untuk terus memperjuangkan klaim-klaim tadi, dirasa perlu memilki iklim kebebasan yang kondusif. Maka jargon yang diangkat untuk tujuan ini adalah liberalisme. Bahwa setiap orang memilki kebebasan mutlak memilki pikiran dan apapun, tanpa harus tunduk pada norma-norma sosial dan agama. Walhasil, saat ini umat Islam sedang dijangkit oleh sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme).

Tetapi jika pada awalnya serangan-serangan itu dimaksudkan untuk melumpuhkan imunitas tubuh umat,mengawali serangan pisik yang diarahkan kepadanya, maka kelumpuhan itu tidak juga kunjung tiba. Karena itu imperalisme kehilangan rasa sabar untuk menunggu kerapuhan total itu. Maka, kini mereka merubah taktik bahwa serangan ke urat saraf dalam bentuk pemikiran dan serangan pisik harus dilakukan pada waktu yang bersamaan. Karena itu imperalisme baru mulai digencarkan oleh Amerika dan sekutunya terhadap dunia Islam. Maka Afganistan, Irak dan entah negeri mana lagi menjadi lahan baru neo-imperalisme. Pada waktu yang sama mereka mengalokasikan dana unlimited untuk gerakan sepilis tadi, di seluruh dunia Islam. Bahkan Amerika sampai menerbitkan al-Qur’an versi baru yang mereka namakan al-Furqon al-Haq.

III. Solusi

Tidak syak lagi bahwa problematika itu menjadi kenyataan pahit yang harus disikapi dengan penuh kesabaran, kegigihan, perjuangan dan pengorbanan. Tetapi sejarah menjadi saksi, sejak agama ini diwahyukan ia tak pernah lekang oleh rongrongan dan tantanagn. Tetapi sejarah juga menjadi fakta, agama ini memiliki imunitas atas segala ancamana yang dialamatkan kepadanya. Karena itu Islam teeap terjaga komunitasnya. “Sungguh Kamilah yang menurunkan al-Dzikr, dan kami pulalah yang memeliharanya” (al-Hijr:9)

Karena itu ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh umat ini secara kolektif, mudah-mudahan Alloh membuat umat ini berjaya kembali sebagaimana yang telah terjadi dalam bentang sejarah yang sangat panjang itu. Kita optimis karena “Mereka membuat konpirasi, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Sesungguhnya Alloh sebaik-baik pembalas tipu daya” (Ali Imran:54)

Beberapa solusi itu diantaranya adalah sebagai berikut:

Kembali pada islam.

Ada stigama klasik tetapi memiliki keabsahannya, bahwa kemunduran yang bisa dihadapi oleh umat Islam tidak lain karena umat meninggalkan agamanya. Ini adalah logika terbalik dari para penganjur sekulerisme, bahwa umat islam hanya akan maju jika Islam ditinggalkan. Ketika itu umat Isalam akan menemukan kemajuannya, persisi seperti ketika Amerika meninggalkan Kristen yang menjadi agamanya. Tetapi analogi Islam dengan Kristen sesungguhnya qiyas ma’al-fariq, Karen amsing-masing mempunyai system nilai dan tatanan yang berbeda.

Jika kita berkaca pada sejarah, justru juru selamat dari keterpurukan umat adalah kembali kepada Islam. Ketika Irak tak berdaya menghadapi serangan mongol, sehingga sungai Efrat berubah warna antara merah (darah umat) dan hitam (debu perpustakaan yang dibakar), Ibn Taymiyah berhasil membangkitkan umat dengan membangun kesadaran berislam. Sehingga pada ahirnya, tidak saja irak merdeka dari penjajahn Mongol, bahkan Mongol sendiri jadi pelopor pergerakan Islam. Dan ketiak kaum salib bercokol selam 70 tahun di Baitul Maqdis, dan negri-negri Islam menghadapi ancaman laten dari kaum Kristen selam 2 abad, Shalahudin al-Ayubi dan par pendahulunya berhasil membangun kekuatan umat dengan memperkuat keislaman.

Karena itu, kita dan siapa saja yang mempunyai kepedulian atas problematika umat, berkepentinan untuk menghadirka Islam dalam diri kita, di tengah keluarga, di tengah masyarakat dan dalam kehidupan bernegara. Tidak hanya dalan konteks Islam yang hanya menurusi dimensi spiritual saja, tetapi dalam dimensinya yang syamil, yang mencakup segala dimensi kehidupan manusia.

Pendidikan Islam yang utuh.

Tetapi bagaimana hal ini bisa dikembangkan sehingga menjadi satu kekuatan? Jawbnya ada pada pendidikan Islam yang utuh. Adalah pendidikan yang berwawasan kemanusiaaan. Bahwa manusia tidak hanya memiliki dimensi akal, yang hanya membutuhkan siraman ilmiyah setiap saat, lebih dari itu berdimensi ruh dan jasad, yang pada setiap saat membutuhkan siraman keimanan, ketahanan fisik dan akhlak yang baik. Teori mengatakan: pendidikan tidak hanya berorientasi kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Karena itu, pendidikan Islam yang utuh adalah pendidikan yang berbasiskan iman, ilmu dan amal soleh.

Dalam konteks posisis kita sebagai pencari ilmu di negeri Al-Azhar ini, maka tugas kita tidak hanya memburu sebanyak mungkin ilmu-ilmu keislaman dari sumber-sumbernya yang orisinal, dan dari para ahlinya di setiap disiplin keilmuan. Lebih dari itu adlah menselaraskan agar semakin luas ilmu pengetahuan yang kita miliki, keimanan juga semakin mendalam. Dan dari dalamnya keimanan, diharapkan akhlak dan perilaku kita semakin mencerminka kepribadian yang sholeh.

Bahakan tanggung jawab kita sebagai kaum mutafaqih fiddin tidak berhenti pada kebaikan individu, lebih dari itu harus memiliki kapabilitas untuk menjadi unsur perubahan ditengah masyarakat. “Tak semestinya semua orang mukmin pergi ke medan perang. Harus ada sekelompok orang untuk tafaqquh fiddin, agar memberi peringatan kepada masyarakat setelah mereka kembali. Mudah-mudahan mereka mengambil peringatan” (al-Taubah:122).

Tetapi pendidikan yang utuh tentu tidak sesederhana terori. Dan lembaga pendidikan sekaliber al-Azhar pun belum tentu bisa diharapkan melakukan peran itu secara sempurna. Pendididkan merupakan proses yang berkesinambungan, yang tidak hanya membutuhkan keseriusan tekad, tetapi juga membutuhkan mileu, lingkungan yang kondusif. Masing-masing kita selayaknya memiliki limited group, terdiri dari orang-orang yang sama memiliki keseriusan untuk merubah diri kea rah yang lebih baik: di tingkat kognitif, afektif dan psikomotorik. Group terbatas itu harus berfungsi sebagai kawan belajar, saudara dan guru. Masing-masing melakukan peran yang aktif untuk pendalamna keimanan dan tazkiatul anfus. Dan untuk kebutuhan itu masing-masing saling membantu dan memberiakn nasihat dengan kebenaran dan kesabaran.

Hanya dengan proses yang berkesinambungan seperti itu, diharapkan tidak hanya memiliki keluasan ilmu pengetahuan, tapi juga kedalaman iman, keindahan akhlak dan memiliki wawasan keumatan. Hanya dengan sifat-sifat seperti itu, seorang muslim akan memiliki kapabilitas diri sebagai agen perubahan kea rah yang lebih baik di tengah masyarakat.

Menyiapkan Kekuatan

Dalam konteks pribadi yang berwawasan keumatan itu, kita sebagai muslim dituntut untuk peduli dengan kondisi umat Islam secara global. Bahwa dewasa ini negera adikuasa sedang menggelar perang peradaban. Tidak karena islam sebagai ancaman atas kemanusiaan, tetapi karena eksploitasi bangsa barat atas manusia ketiga terancam oleh arus kebajikan yang diperankan oleh islam. Karena itu, tobe or not tobe. Mau atau tidak mau, kita dipaksa untuk survive menghadapi serangan yang membabi buta itu. Dan itu membutuhkan kekuatan. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka segala bentuk kekuatan semaksimal mungkin” (al-Anfal:60).

Tetapi kekuatan bisa bersifat militer dan sipil. Kekuatan militer lebih merupakan tugas negara. Dan kekuatan sipil adalah kekuatan sumber daya manusia dalam segala disiplin kehidupan. Dalam konteks ini, setiap kita berkewajiban untuk melakukan penggalian sedalam-dalmnya atas disiplin ilmu yang menjadi pilihan spesialisasi kita. Dan setiap muslim dituntut untuk memberikan kontribusinya bagi kemajuan dan kejayaan umat.

Perjuangan dan Pengorbanan

Dalam rangka memberikan kontribusi itu, diperlukan kesiapan untuk berjuang dan berkorban. Tetapi hal itu harus dilakukan secara bijak, dalam arti retorikanya harus sesuai dengan level kekuatan umat yang dimilikinya. Karena perjuangan Rosululloh SAW, pada fatrah makah berbeda dengan perjuangannya pada fatrah madinah. Karena itu, ada yang disebut dengan fiqh lemah dan fiqh kuat, retorika perjuangan umat dalam keadaan lemah jelas berbeda dengan perjuanagn kuat. Untuk perjuangan ini, tentu saja kelahiran dan kematian peradaban adalah proses yang panjang. Demikian dengan kebangkitan kembali sebuah peradaban, perjalanannya panjang dan mendaki. Boleh jadi tidak selesai dan bisa dinikmati oleh satu generasi. Harap diingat bahwa Mus’ab bin Umair yang dengan gigih membuka da’wah di madinah sehingga dakwah islam masuk ke setiap rumah sebelum Rosululloh SAW, hijrah, ia tidak sempat menyaksikan kecemerlanagn umat islam. Tetapi dalam kematiannya ia memetik kemenangan. Fuztu warabbil ka’bah, teriak orang sahabat ketika sebuah busur tombak menembus lehernya dalam sebuah peperangan.

Tetapi walaupun begitu, kita berdoa kepada Alloh, mudah-mudahan kita, anak kita, atau cucu kita bisa menyaksikan bahwa umat islam bangkit kembali menjadi mercusuar perdamaian, kedamaian, dan kebahagiaan umat manusia, dimana saja mereka berada. Kita sangat yakin dengan janji Alloh: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Alloh maka Alloh akan menolong kalian dan memperkokoh kedudukan kalian” (Muhammad:7). Wallohu waliyyut Taufiq

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: