BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

March 24, 2007

SURAT UNTUK AYAH DI SURGA

Filed under: hikayah — supraptoe @ 9:07 am

By: Elais
3 Hari menjelang puasa
Salam sayang,
Ayah… bagaiman kabar ayah disana? Lia bayangkan ayah pasti betah di Surga, ayah kan rajin sholat, rajin p uasa, rajin zakat. Kata ayah kalau kita rajin beribadah kita akan masuk surga.

Ayah… Lia rindu ayah, biasanya sebelum puasa ayah ajak Lia jalan-jalan ke pantai, ayah akan ajarkan Lia buat istana pasir. Ayah juga yang ajarkan Lia mengumpulkan keong-keong kecil, lalu kita akan makan ikan bakar bersama, mumpung belum puasa, kata ayah.

Ayah… ingatkah ketika kecil dulu ayah selalu menjanjikan untuk memberi Lia hadiah jika Lia berhasil tamat puasa 30 hari penuh? Ayah juga berjanji untuk membelikan Lia baju dan sepatu baru saat Lebaran nanti?

1 Hari sebelum puasa
Salam rindu,
Ayah… sedang apa sekarang? Lia rindu sekali, rindu akan suara ayah yang bijak bercerita tentang Abu Bakar, Ummar bin Khatab, Ustman bin Affan, atau sahabat Nabi lainnya yang teguh menjalankan ibadah puasa. Sambil bercerita biasanya ayah akan mengelus rambut Lia dengan sayang, lalu berdo`a agar Lia menjadi orang tangguh sehebat para sahabat nabi lainnya. Kini cerita apalagi yang ayah punya?

Ayah… ayah ingatkan biasanya nanti malam ayahlah yang dengan semangat mengajak Lia sholat tarawih, lalu dengan sabar memakaikan mukena Lia. Ayah juga yang menggandeng tangan Lia berangkat ke masjid.

Ayah…siapa yang nanti malam akan membangunkan Lia makan sahur? Siapa yang dengan sabarnya menuntun Lia ke kamar mandi untuk cuci muka? Lalu siapa yang akan tersenyum di saat Lia setengah terpejam makan sahur? Siapa yang akan memaksa Lia pergi ke masjid untuk mendengarkan kuliah subuh? Oh.. ayah betapa dalam kerinduan ini tersimpan untukmu.

Hari ketiga puasa
Ayah… disana ayah puasa tidak? Lalu, ayah makan sahur sama siapa? Lia sekarang jarang bangun malam untuk makan sahur, apalagi kalau mbok Ijah telat bangun. Mama Via, masih belum mau puasa, takut sakit maag katanya. Dio, dan Santi juga masih enggan puasa sampai hari ini, katanya nggak kuat, takut sakit perut. Lia jadi bersyukur karena ayah ajarkan Lia puasa dari kecil, jadi sekarang Lia tak pernah lagi merasakan sakit perut waktu puasa.

Ayah… tadi siang om Herman teman ayah datang kemari. Katanya dia diberi amanat untuk membacakan surat wasiat pembagian seluruh harta warisan ayah. Ayah tenang saja om Herman telah melunasi semua amanat ayah sebelum harta itu dibagikan seluruhnya. Oh iya, om Herman juga berjanji akan menjaga Lia sepeninggalan ayah, Lia juga tau om Herman sayang pada Lia seperti anaknya sendiri.

Hari ketujuh puasa
Ayah… Lia inggin sekali menangis dipangkuan ayah. Tadi siang mama Via memaksa Lia menandatangani surat, entah apa isinya. Akhirnya Lia tau surat itu berisi bahwa seluruh aset kakayaan ayah yang diwariskan untuk Lia akan dipindahtangankan atas nama mama Via. Lia menolak, mama Via marah sekali, dan ini baru pertama kalinya mama Via main tanggan. Lia dipukul, lalu dijambaknya. Mama Via juga mengancam Lia kalau tidak menandatangani surat itu.

Ayah… Lia minta maaf, kalau akhirnya Lia melakukan juga apa yang mama Via mau. Terserahah, Lia tidak perduli dengan semua harta itu, toh yang Lia mau adalah ayah. Tidak ada satupun harta didunia ini yang mampu menggantikan ayah.

Hari kesepuluh puasa
Salam sayang,
Ayah… ini hari kesepuluh Lia puasa, Alhamdulillah Lia masih sering pergi mendengarkan Kuliah subuh. Tadi pagi pa Soleh yang berkhutbah, isinya adalah tentang berbakti kepada orang tua, Lia jadi sedih sekali. Ayah, apakah Lia sudah menjadi anak yang berbakti dihadapan ayah?

Tapi, sepulangnya dari masjid Lia kaget sekali, mbok Ijah menangis, katanya mama Via marah-marah karena tidak ada sarapan pagi. Memang siapa yang mau masak pagi hari saat orang khusyu berpuasa? Ujung-ujungnya mbok Ijah dipecat. Setengah marah Lia membela mbok Ijah. Lia juga mem-protes mama Via, bagaimanapun mama Via tidak bisa begitu saja memecat mbok Ijah, eh malah Lia dipukulnya juga. Sedih sekali Mbok Ijah dibilang ga becuslah, ga tau dirilah, pembantu malaslah. Padahal ayah sendiri tau kan bagaimana mbok Ijah dengan sepenuh hati mengabdikan diri pada keluarga kita semenjak 10 tahun yang lalu.

Maaf ayah Lia nggak bisa membela mbok Ijah lagi, tadi Lia menangis saat membantu mabok Ijah merapihkan pakaiannya. Ayah, kalau mbok Ijah pergi, lalu siapa yang akan mendengar keluh kesah Lia? siapa yang akan menghibur Lia di saat Lia bersedih?

Pertengahan Ramadhan
Tepat 15 hari sudah berjalan bulan Ramadhan kali ini. Tapi, Lia tidak merasakan hal-hal indah seperti dulu lagi. Ayah, hari ini juga Lia dikeluarkan mama Via dari sekolah, katanya biaya sekolah Lia terlalu mahal, lebih baik uangnya dipergunkan untuk hal lainnya. Padahal ayah lah yang selalu memperjuangkan Lia agar mendapatkan pendidikan yang terbaik, tak perduli seberapa besar biaya yang harus ayah keluarkan. Lia jadi sedih, padahal kan cita-cita ayah ingin melihat Lia jadi Insinyur.

Ayah, Lia jadi ga paham yang mama Via mau, Lia sudah berusaha menggantikan seluruh pekerjaan mbok Ijah seperti yang disuruh mama Via, tapi selalu saja ada yang salah dari pekerjaan Lia. Sebentar-sebentar Lia dimarahi, selain marah, mama Via juga sering main pukul atau jambak.

17 Ramadhan
Salam rindu,
Ayah, dulu ayah pernah bilang kalau hari ini adalah hari diturunkannya Al-Qur’an kepada nabi Muhammad. Lia juga sering dengar ceramah tentang hal ini, katanya pada hari ini diturunkan banyak barakah dari Allah. Tapi sepertinya tahun terasa beda dari sebelumnya. Marah mama Via semakin menjadi-jadi, katanya Lia sering bikin ulahlah, anak tak tau diuntunglah, tidak tau terima kasihlah, padahal tidak ada satu kesalahan pun yang Lia lakukan.

Ayah… Ayah pernah bilang Lia harus selalu sabar, akhir-akhir ini selain mama Via, Dio juga ikut-ikutan main pukul, padahal sepertinya Lia tidak salah apa-apa. Ayah, Lia lebih takut lagi kalu Dio yang marah. Ayah tau dia tidak segan-segan memakai ikat pinggang atau rotan untuk memukul Lia.

Ayah… Santi pun yang biasanya tidak perduli pada keadaan rumah, mulai meniru-niru tingkah laku mama Via atau Dio. Mungkin ayah tidak percaya dengan apa yang Lia ceritakan, walaupun begitu Lia masih pegang ajaran ayah untuk selalu berkata jujur. Ayah, Lia juga heran dengan perbedaan tingkahlaku mereka sekarang dengan dulu ketika pertama kali mereka masuk rumah ini.

20 Ramadhan
Ayah… berapa banyak bidadari di surga? Bukankah ayah pernah bilang ini rumah kita sekaligus surga kita, tapi, sepertinya sekarang tidak lagi. Tidak ada canda tawa dirumah ini lagi, Lia rasa rumah ini semakin mirip rumah hantu dicerita-cerita.

Ayah… mama Via sering membawa teman laki-lakinya ke rumah, entahlah siapa nama om-om itu, Lia tak bisa mengingatnya satu persatu. Mereka kurang sopan, sering merokok; puasa pun tidak.

Beda lagi dengan Dio, hampir keseluruhan teman-temannya aneh. Rumah ini sering dijadikan tempat pesta tiap kali mereka memenangkan lomba ngetrek di jalanan. Lia takut, pernah suatu hari salah satu teman Dio ganggu Lia, Ayah, sekarang tak satupun yang bela Lia. Lia takut sekali. Santi? Entahlah apa yang dilakukanya, semakin hari semakin aneh, sering sekali dia minta uang dalam jumlah besar pada Mama Via, untuk shoping, ke salon, atau pun untuk jalan-jalan. Awalnya mama Via mau menurutinya, tapi akhir-akhir ini Lia sering dengar adu mulut antara Santi dengan mama Via. Lia jadi rindu suasana rumah seperti dahulu lagi.

25 Ramadhan
Salam cinta,
Ayah… ayah masih puasa? Tarawih? Maaf sekali Lia tidak pernah lagi pergi ke masjid untuk mengikuti tarawih maupun kuliah subuh. Sudah seminggu ini mama Via melarang Lia keluar rumah, entah apa alasannya.

Oh ya, ayah sudah bertemu Banu belum? Anak dari pak Dadang, tetangga kita dekat masjid? Kemarin sore Banu meninggal karena main petasan yang meledak tepat dihadapan wajahnya, ledakannya cukup besar, Banu sempat dibawa kerumah sakit, tapi tidak sempat tertolong karena lukanya cukup parah. Bu Dadang menangis terus sampai sekarang, ayah tau kan Banu anak mereka satu-satunya. Lia jadi ingat ayah dulu marah ketika Lia main petasan waktu kecil dulu.

Ayah, maaf Lia tidak diizinkan mama Via untuk pergi berziarah kerumah bu Dadang, mama Via marah ketika Lia bilang bagaimana ayah dulu mengajarkan bahwa kita harus menghormati tetangga. Mama Via bilang Lia sok berceramahlah, sok menasehati orang tualah, ujung-ujungnya Lia ditampar dan dipukul. Saat itu juga Dio pulang sambil merokok, mama Via marah besar, dia bilang Dio sakarang mulai berani merokok. Dio melawan, akhirnya perang mulut antara Dio dan Mama Via.

Ayah, Lia ingin sekali menangis, Dio menuduh Lia yang melaporkan pada mama Via tentang rokok itu, padahal Lia tidak tau apa-apa. Ayah, tangan Lia sekarang luka, Dio menyulutkan puntung rokoknya. Rupanya mulai ada perang dunia di rumah ini.

27 Ramadhan
Ayah… bulan suci ini akan segera pergi, sama rasanya dengan Lia yang inggin pergi dari rumah ini. Penat, lelah dan bosan yang selalu membayangi hari-hari Lia. Terlebih rasa rindu Lia yang teramat dalam pada ayah. Terkadang Lia juga berandai-andai jika ada mbok Ijah disini.

Sudah dua hari ini makanan Lia di stop total, ayah… dari kemarin hanya 3 biji kurma yang masuk ke dalam perut Lia. Mama Via marah besar, penyebabnya hanya hal sepele, ada utusan masjid datang kemari untuk mengkoordinir pembayaran zakat fitrah, mama Via menolak , lalu dengan sopan utusan pondok itu menjelaskan tentang wajibnya zakat itu sendiri, mama Via marah-marah. Orang itu dimaki-makinya, dibilang sok ceramah lah, sok nasehatin orang tualah. Lalu dia meminta izin untuk bertemu Lia, sambil menceritakan bahwa ayah dulu tidak pernah meninggalkan zakat, bahwa ayah dan Lia sendiri yang sering ikut dalam pengkoordiniran pembayaran zakat. Karena kesal orang itu diusirnya, Lia juga jadi sasaran kemarahan mama Via, semua kemarahan mama Via tertumpah saat itu juga.

Setelah puas menyiksa Lia, mama Via mengurung Lia di Gudang belakang rumah, tapi hanya sehari kok ayah, karena tidak ada lagi yang membereskan rumah dan masak, akhirnya Lia di bebaskan juga.

Ayah… kalau ayah lihat keadaan putrimu ini, sekarang lebih mirip dengan cinderela dalam cerita-cerita. Bedanya disini tidak ada peri, tidak ada pangeran, juga kereta kuda, adanya hanya gerobak sampah pak Engkus yang sampai saat ini masih setia mengambil sampah dari rumah kita.

Malam Takbiran
Ayah… gema takbir menggema di seluruh pelosok negri, malaikat pun turut berdendang mesra menyebut asma-Nya. Awan, langit, dan alam ini pun tak berhenti tersenyum memandang indahnya malam ini. Lia ingat ayah pernah mengajak Lia ikut mengarak bedug raksasa keliling daerah ini. Ayah… disana ada berapa bidadari yang sedang memasak untuk esok pagi?
Ayah… sepertinya alam memahami apa yang sedang Lia rasakan. Tadi siang hujan turun sangat deras, sederas tangis Lia. Maafkan Lia, semuanya sudah diluar batas. Kelakuan mereka dirumah ini, juga dengan semua luka yang ada ditubuh Lia ini, ayah, tangan kanan Lia luka terkena siraman air panas, terlebih tidak ada lagi makanan yang masuk kedalam perut ini.

Ayah… maaf, malam ini Lia pergi dari rumah ini. Pergi meninggalkan tempat yang dulu sangat kita puja. Lia hanya bawa buku kecil ini, terlalu banyak kenangan yang tersimpan dalan buku permberian ayah ini. Entahlah, esok Lia masih bisa merasakan indahnya Lebaran atau tidak.

Lebaran nan Damai
Ayah… dulu ayah pernah ajarkan Lia, bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendiri, bahwa Allah akan terus menyayangi hamba-Nya yang beriman. Hari ini Lia pun menyaksikan semua keajaiban itu.

Saat Lia tak tau kemana lagi harus melangkah, Lia beristirahat sejenak di pos kamling pinggir jalan. Ternyata ada mobil om Herman diparkir dekat situ. Om Herman kaget sekali ketika melihat kondisi Lia, Lia pingsan, beliau juga yang langsung mengantar Lia berobat ke dokter.

Ketika Lia sadar, om Herman menanyai banyak hal tentang keadaan Lia, Khususnya tentang keadan rumah itu. Wajah om Hermah terlihat sangat marah ketika tau sebagian besar harta warisan ayah diselewengkan untuk hal-hal yang tidak berguna. Lia besyukur masih ada orang yang peduli pada Lia.

3 Syawal
Ayah… kondisi Lia makin membaik, om Herman dan ka Azzam lah yang banyak mengurus kebutuhan Lia. Ayah masih ingat dengan ka Azzam kan? Putra tunggalnya om Herman yang sedang study di Madinah, ka Azzam juga dulu adalah teman kecil Lia, dan umur kami hanya beda 4 tahun.

Ayah… ada satu lagi berita gembira, om Herman berjanji akan mengurus semua harta ayah dan akan mengamankannya, juga ternyata ada laporan baru dari kepolisaian bahwa kematian ayah, salah satu sebabnya adalah rekayasa dari mama Via, Lia hanya mendo`akan semoga mereka bisa menyadari kesalahan mereka.

Ayah… mbok Ijah juga akan dipanggil kembali untuk menemani Lia lagi. Rasanya semua yang terjadi merupakan sebuah anugrah. Mbok Ijah juga akan membantu Lia berhias dihari pernikahan Lia nanti, ops… sorry ayah, Lia belum bilang, tadi siang ka Azzam melamar Lia untuk jadi istrinya. Bagaimana ayah? boleh kan? Bukannya ayah ingin segera melihat Lia jadi ratu sehari, lagian pangerannya juga baik kok.
Ayah… titip salam rindu untuk bunda, seperti apa ya wajah bundaku? Mungkin juga seperti wajah Lia yang manis ini? he.. Lia akan terus mendo`akan ayah dan bunda agar terus kekal abadi di Surga-Nya.

Gami, 20-10-2006

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: