BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

March 24, 2007

Refleksi Diri di Bulan Suci

Filed under: hikmah — supraptoe @ 9:20 am

Marhaban yâ Ramadhan! Marhaban yâ Syahru-Shiyam!. Inilah ungkapan yang selalu kita dengar kala Ramadhan tiba. Ungkapan yang selalu diserukan umat muslimin seantero jagad penuh rasa senang dan gembira. Bagaimana tidak, karena bagi mereka yang menyambut bulan Ramadhan ini penuh kegembiraan Allah berjanji telah mengharamkan jasadnya dari siksa api Neraka. Rasulullah Saw. Bersabda: “Man fariha bidukhûli syahri ramadhan harramallahu jasadahu minannâri”.

Rahmat dan kemuliaan selama 30 hari pada bulan tersebut mengantarkan manusia pada belas kasih Sang Maha Pengasih dan Penyayang, yang barangkali, belum kita rasakan di bulan-bulan lainnya. Ramadhan merupakan bulan dimana terbukanya pintu-pintu Syurga dan tertutupnya pintu-pintu Neraka, di belenggunya Syaitan pengganggu dan penghasut manusia berbuat kemaksiatan dan ke-dzaliman. Maka, datangnya bulan yang mulia ini, sepatutnya senantiasa di barengi akan perenungan hari-hari kita yang selalu diliputi kesalahan dan dosa membuat kita jauh dari Sang Pencipta. Usaha tersebut dapat kita lakukan dengan memperbaiki hubungan baik kita secara vertikal maupun harizontal (hablun minallah wa hablun minannâs). Pun hubungan batin kita dengan-Nya harus tetap terjaga, menjalankan seluruh perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya agar selalu berada di jalan-Nya yang lurus (as-shirâthal al-mustaqîm).

Merupakan urgensitas Ramadhan adalah; bagaimana kita menyusun langkah strategis agar mampu memproduksi esensi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, tentunya kita juga harus mempersiapkan hidangan rohaniah penguat ibadah yang sering terisolasi keinginan semu jasmaniah. Jika sajian meja makan Ramadhan selalu menyajikan menu special (baca: mewah) di waktu sahur dan buka dibanding bulan selain bulan suci ini, maka, sepatutnya sajian rohaniah ibadah kita pun lebih memiliki nilai spesifik dibanding hari-hari biasa kita.

Sungguh telah datang kepada umat Manusia bulan Allah yang penuh rahmat, berkah, ampunan dan bulan yang paling mulia di sisi Allah Swt. Hari-harinya, malam-malamnya detik-detiknya memiliki keutamaan tiada tara jika di isi dengan senantiasa menyebut asma-Nya. Akankah Ramadhan ini kita lalui percuma seperti halnya kita melalui hari-hari kita tanpa nilai amal apapun? Menghabiskan waktu mulianya dengan kesenangan sesaat? menghabiskan tiap malam Ramadhan tanpa sedikit pun mengisinya dengan nilai ibadah? ataukah mungkin kita merasa bosan dan malas menyapanya?. Na’udzubillah min dzâlik. Seorang hamba yang beriman seyogyanya menyambut Ramadhan sebagai bulan pertaubatan diri hamba di hadapan khaliq disertai tekad yang bulat untuk meraih sebanyak-banyaknya kebaikan di bulan suci ini; mengisi setiap waktunya dengan amal shalih. Dan tidak lupa, selalu memohon kepada Allah agar menetapkan langkah kita dalam menjalankan ibadah tuk menggapai ridhanya. Amien.

Beberapa tingkat pahala dapat kita raih secara maksimal di bulan suci ini. Keseluruhannya adalah harapan akan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat, dan merupakan petunjuk agar dapat meraih Ramadhan terindah. Pertama, Perbanyaklah sholat. Sholat di bulan suci ini menyimpan pahala yang teramat besar. Di bulan ini dilipatgandakannya pahala yang tidak Ia lipatgandakan di hari-hari selain bulan Ramadhan. Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang sabar melakukan shalat 12 rakaat dalam satu hari satu malam maka ia akan masuk syurga”.( H.R. An-Nasai ). Dikatakan dalam riwayat lain: “Barang siapa shalat dalam satu hari satu malam 12 rakaat, selain shalat wajib, maka dibangunkan untuknya sebuah rumah di syurga”. ( H.R. Muslim ). Kedua, Tingkatkan kualitas puasa kita. Hujjatul Islam Syaikh Imam al-Ghozâlî dalam bukunya Ihya ’Ulumuddin membagi tingkatan orang yang berpuasa menjadi tiga: 1. Puasa Awam. Yaitu mereka yang hanya menahan rasa lapar dan dahaga dan kepuasan nafsu saja mulai fajar hingga terbenamnya. 2. Puasa Khowas. Yaitu, mereka yang tidak hanya menahan rasa lapar dan dahaga tapi juga menahan seluruh anggota tubuhnya dari berbuat maksiat. Menahan mata dari memandang hal-hal subhat, menahan telinga dari mendengar hal-hal yang diharamkan (termasuk ghibah), menahan tangan dari yang haram dan tidak hak, menahan kaki dari melangkah untuk melakukan berbagai maksiat. 3. Puasa Khowasul Khowas. Yaitu mengikat hati dengan kecintaan pada Allah Swt, tidak melakukan pekerjaan kecuali karena Allah, selalu mengingatnya dimanapun Ia berada, serta membenci hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Kemudian tingkatan ke Ketiga pencapain pahala di bulan suci ini adalah, Jangan sia-siakan waktu malam kita dengan tidak mendirikan qiyamullail. Sebaik-baik ni’mat setelah Islam adalah menyendiri bersama Allah Swt. Bukankah berdiri untuk melaksanakan sholat lebih baik daripada tidur berbaring diatas kasur?. Qiyamullail adalah madrasah yang paling agung diantara madrasah-madrasah pembinaan diri. Tidak akan mampu seorang pun melaksanakannya kecuali orang-orang yang ikhlas. Keempat, Basahilah lidahmu dengan dzikrullah. Dzikrullah adalah tempat peristirahatan bagi jiwa yang selalu di lilit masalah, sehingga seorang tabi’in mengatakan: “Sesungguhnya di dunia ini ada syurga, maka barang siapa yang belum masuk syurga dunia ia tidak akan masuk syurga akhirat, syurga dunia adalah dzikrullah”. Di akhirat nanti, sesungguhnya kita akan diminta pertanggung jawaban terhadap seluruh anggota tubuh kita, apa yang seharusnya mata ini perhatikan, apa yang semestinya telinga ini perdengarkan, tangan ini pekerjakan, atau kemanakah kaki ini harus di langkahkan, dan apakah yang telah di katakan dari lisan ini?. Kelima, Jangan sia-siakan waktu, bacalah Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah paling utama di bulan suci ini. Bersungguh-sungguhlah menghatamkan Al-Qur’an lebih dari satu kali. Rasulullah Saw bersabda: “Kalian tidak akan sampai pada puncak keimanan sampai tidak ada sesuatu yang lebih kalian cintai daripada Allah Swt, dan barang siapa mencintai Al-Qur’an maka Allah akan mencintainya”. Karena al-Qur’an pun nantinya akan menjadi syafa’at bagi Muslimin yang gemar membacanya. Keenam, Menyegerakan Taubat. Taubat adalah penyesalan terhadap segala perilaku kemaksiatan dan berjanji sepenuh hati tidak akan mengulanginya lagi. Setiap kita memerlukan taubat terutama jika kita sadar akan perbuatan dosa yang kita kerjakan, meminta ampunan Allah Swt agar selalu berada dalam lindungan-Nya. Rasulullah Saw bersabda “Barang siapa mendekatkan diri kepadaku satu jengkal maka aku akan mendekatinya satu hasta, dan barang siapa mendekatiku satu hasta maka aku akan mendekatinya satu depa, dan barang siapa mendekatiku dengan berjalan, maka aku akan mendekatinya dengan berlari”. ( H.R. Muslim ).

Disamping itu, substansi lain dari taubat adalah tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sering kita lakukan pada bulan Ramadhan lalu, diantaranya; 1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban. Misalnya, tidak tumbuh keinginan untuk melatih bangun malam guna melaksanakan Shalat Tahajjud atau tidak melaksanakan puasa sunnah pada bulan Sya’ban. Karena dikatakan dalam satu riwayat dari Aisyah r.a. berkata “Aku tidak pernah melihat Rosullulloh Saw berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw banyak berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban”. ( H.R. Bukhori dan Muslim ). 2. Sering mengulur-ngulur waktu shalat fardhu. Orang yang berpuasa seyogyanya berdisiplin menjalankan shalat fardhunya, karena terkadang mayoritas kita selalu mengulur-ngulur waktu shalat. Misalnya, shalat zuhur dilaksanakan ketika menjelang waktu ashar, padahal tidak ada udzur atau kegiatan apapun yang menghalanginya melaksanakan tepat pada waktunya, begitu juga dengan shalat lima waktu lainnya. Karena Allah telah menegaskan hal tersebut dalam surah Al-Maa’uun yang artinya “Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya”. Dan surah Maryam “Kemudian datanglah setelah mereka, penggangti yang mengbaikan shalat dan mengikuti keinginanya, maka mereka kelak akan tersesat, kecuali orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun. (Q.S. Maryam 59-60). 3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Betapa banyaknya sunnah-sunnah Nabi yang terkadang kita lupakan karena enggan untuk melaksanakannya, termasuk di dalamnya qiyamullail, karena shalat di malam hari terasa sangat berat bagi orang-orang munafik tapi terasa ringan bagi orang-orang yang ikhlas. Dan Allah berfirman “Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdo’a kepada kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (Q.S. Al-Anbiya 90) 4. Malas membaca Al-Qur’an. Bulan Ramadhan merupakan syahrul-qur‘an, di bulan ini diturunkannya Al-Qur’an, orang-orang shalih terdahulu seling melewatkan waktu mereka di bulan Ramadhan dengan membaca Al-Qur’an, bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk menggali dan meraih kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Dan selalu mengamalkannya ketika Ramadhan berlalu sebagai tanda bukti akan keberhasilan kita melatih diri di bulan Ramadhan. 5. Menyia-nyiakan waktu dengan hal yang tidak bermanfaat. Di dalam Al-Qur’an Allah Swt berdialog dengan orang-orang yang menyia-nyiakan waktu mereka dengan bermain-main. Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? “Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah pada mereka yang menghitung. “Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui. “Maka apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?. Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan ( yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) ’Arsy yang mulia (Q.S. Al-Mu’minun 112-116). Masih banyak hal lain yang perlu kita koreksi dengan intropeksi diri, karena dari sanalah kita akan menemukan jalan cerah melalui hati nurani yang mengantarkan kita pada ridha-Nya. Amien.

Perlu kiranya kita kembali mengingat pesan Rasulullah menjelang bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Tholib r.a.: “Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan do’a-do’amu diijabah. bermohonlah kepada Allah Swt, Rabb-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini. Kenanglah rasa lapar dan hausmu sebagaimana kelaparan dan kehausan pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakan orangtuamu. Sayangilah yang muda. Sambungkanlah tali persaudaraan. Jaga lidahmu. Tahan pandangan dari apa yang tidak halal kamu memandangnya. Dan tahan pula pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya anak-anak yatim akan dikasihani manusia. Bertaubatlah kepada Allah Swt dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa di waktu shalatmu, karena saat itulah saat yang paling utama ketika Allah Azza wajalla memandang hamba-hamba-Nya, dia menyambut ketika mereka memanggil-Nya. dan dia mengabulkan doa-doa ketika mereka bermunajat kepada-Nya. (yan)

1 Comment »

  1. aslm Bro! salam ukhuwah…

    Comment by pito — September 7, 2008 @ 3:31 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: