BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

March 24, 2007

Perbaikan itu beyond limit and space; sebuah refleksi untuk kita

Filed under: wacana — supraptoe @ 9:31 am

Tanggal 28 Oktober memang telah lewat menyapa kita. Entah ia merupakan sebuah moment tertentu atau ia sebatas catatan waktu yang menghiasi hari kehidupan kita. Kadang kita juga terjebak dengan berbagai hajatan yang diadakan untuk memperingati tanggal yang dikenal bersejarah dalam kehidupan berbangsa kita. Seakan -akan merasa adem bila kita telah memperingatinya secara simbolis dan hanyut dalam kepadatan resepsi guna menyambut hari yang kita kenal dengan akad dan janji pemuda yang berakhir dengan happy ending dalam sejarah perjuangan bangsa kita. Masalahnya tentu tidak akan sesederhana sekarang bila isu nasionalisme kala itu tidak tercatat dalam sebuah prasasti maha besar, modal dan rujukan untuk menuju sebuah kebersamaan cita dan harapan.
Dengan melewati sebuah masa, ternyata kata kunci yang ada dalam peristiwa itu dengan sekarang tetaplah sama yakni; ‘pemuda’. Kita tentu akan bersepakat bahwa pemuda merupakan sebuah komunitas khusus dalam masyarakat yang memiliki peranan sangat penting. Ia merupakan komunitas khusus karena pemuda (mahasiswa red.) adalah pelaku yang memiliki potensi besar sebagai agen perubahan (agent of change) atau berbagai macam gelar yang ia sandang seperti director of change, creative minority, calon pemimpin bangsa dan lain sebagainya. Berbagai perubahan besar dalam persimpangan sejarah negeri ini, senantiasa menempatkan mahasiswa atau pemuda dalam posisi terhormat dan krusial.
Sejarah kehidupan manusia pun tidak tinggal diam. Sejarah mencatat Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib (8 tahun), Zubair bin Awwam (8 tahun), Arqam bin Abi Arqam (11 tahun), Ja’far bin Abi Thalib (8 tahun), Zaid bin Haritsah (20 tahun), Saad bin Abi Waqash (17 tahun), Utsman bin Affan (20 tahun), Abu Ubaidah bin Jarrah (27 tahun), Bilal bin Rabbah (30 tahun), Abdurrahman bin Auf (30 tahun), Umar bin Khathab (27 tahun), Abubakar Ash Shiddiq (37 tahun), dan lain-lain. Terbukti mampu memberikan peranan yang luar biasa dalam perjalanan umat Islam khususnya. Kita bisa membaca, betapa besar dan dahsyatnya peran seorang pemuda yang bernama Ali bin Abi Thalib sebagai motor pembaruan dan perubahan. Lebih jauh lagi Allah mengejutkan kita dengan ketegaran dan semangat didalam menemukan kebenaran yang termaktub dalam kisah ashâbul kahfi (Q.S. 18: 9-26). Hal ini tentunya memberikan pelajaran besar dan berharha bagi kita; tentang arti sebuah pengorbanan, idealisme dan semangat pembaruan yang ada pada jiwa mereka.
Beberapa ulama menggolongkan peranan pemuda kedalam tiga bagian: Pertama, pemuda sebagai generasi penerus. “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka
dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami
tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur : 21). Kedua, pemuda sebagai generasi pengganti. “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad
dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan mereka pun mencintainya … (QS. Al-Maidah : 54). Ketiga, pemuda sebagai generasi pembaharu (reformer) “Ingatlah ketika ia (Ibrahim-pen) berkata kepada bapaknya : ‘wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak
melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun’.” (QS. Maryam : 42).
Setelah mengetahui betapa besar peranan pemuda, maka pertanyaan selanjutnya yang akan ditujukan kepada pemuda tentulah amat berat mengingat sebegitu besar peran dan fungsi yang dimiliki oleh sosok pemuda dan kita sebagai mahasiswa. Adakah peran dan peranan kita dapat kita wujudkan? Mampukah kekuatan, idealisme, jiwa pengorbanan, cita dan harapan dapat tertuangkan dalam segala aspek kehidupan yang kita miliki? Atau berbagai problematika dan pertanyaan lain yang akan kita dapatkan dan hadapkan kepada kita?
Yah…terlalu besar memang sebuah harapan itu untuk direalisasikan. Akan tetapi tentu kita tidak mengharapkan peranan yang dimiliki hilang dengan ketidakmampuan kita dalam memaknai diri sendiri. Pada hakikatnya menemukan makna diri merupakan perkara yang lebih berat karena harus kita akui bahwa hal ini berhubungan erat dengan kesadaran, proses kedewasaan dan tentu yang paling penting adalah ilmu hikmah yang didapat hanya bila memang Allah menghendaki.
Kenapa hal ini dihubungkan? Sebab, peranan akan dapat terwujud dengan hasil yang sempurna bila kita memiliki makna kesadaran diri yang kemudian dilanjutkan dengan pemaknaan dalam tingkah dan sikap. Artinya, kita tidak akan mampu menjadi generasi pembaru, penerus yang handal bila kita menafikan kekuatan yang ada pada individual kita sendiri. Perbaikan tentulah yang akan kita tuju. Lebih jauh lagi. Hasan Al-Banna menuturkan bahwa, perbaikan suatu umat tidak akan terwujud kecuali dengan perbaikan individu, yang dalam hal ini adalah pemuda atau mahasiswa.
Dan sekali lagi perbaikan individu (pemuda) tidak akan sukses kecuali dengan perbaikan jiwa. Begitupun perbaikan jiwa tidak akan berhasil kecuali dengan pendidikan dan pembinaan. Adapun yang dimaksud dengan pembinaan adalah membangun dan mengisi akal dengan ilmu yang berguna, mengarahkan hati lewat do’a, serta memompa dan menggiatkan jiwa lewat instropeksi diri. Hal ini akan kita temukan dalam firman allah: “Mereka adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah… ” (Q.S. at-Taubah: 112).
Memulai dengan perbaikan tentu akan berakhir pula dengan sebuah kebaikan sebagaimana kata-kata atau ucapan yang keluar dari hati tentu jua ia akan masuk kedalam hati. Sehingga awal perbaikan diri diharapakan berakhir dengan generasi yang baik dan unggul demi terciptanya kebangkitan yang hakiki.
Seterusnya, tentu akan ada sebuah ketakutan yang muncul kala pemuda mampu berdiri tanpa ada perbaikan. Atau bila pun pemuda hadir dengan semangat kebaikan yang membara. Ketakutan itu disinyalir oleh Dr Yusuf Qardhowi sebagai faktor-faktor kebangkitan yang diingkari; beberapa catatan untuk para pemuda. Diantaranya adalah; Pertama, kedangkalan studi Islam dan syariatnya. Kedua, tidak mengakui kebenaran pendapat orang lain. Ketiga, sibuk mempersoalkan masalah-masalah kecil dan melupakan masalah-masalah besar. Para pemuda terlampau menyibukkan diri pada masalah-masalah yang tidak prinsipil dan tidak memberikan perhatian yang memadai pada masalah-masalah besar yang berhubungan dengan eksistensi dan masa depan umat Keempat, berdebat dengan pendekatan yang kasar.
Keempat masalah diatas yang sempat muncul diatas permukaan tentu memberikan warna yang lain terkait dengan peran dan fungsi pemuda Islam. Cakupannnya pun lebih meluas tidak sebatas agama akan tetapi nasional dan internasional. Artinya, kita menilai ada beberapa tahapan yang akan dilalui oleh pemuda. Dimana ia akan berhadapan dengan fase pengenalan jati dirinya, Dilanjutkan lagi ia akan berbenturan dengan fase yang lebih tinggi yaitu fase penemuan jati diri dimana ia akan meleburkan dirinya dengan kesadaran hati dan jiwa. Sehingga ia akan melewati berbagai koreksian yang akan menyempurnakan keteguhan jiwa dan pikiran.
Bilakah pemuda telah mengenal peran dan fungsi maka ia dituntut untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dikerjakan. Ya, ada konsekuensi identitas pemuda atau mahasiswa saat ini! Setidaknya ada tiga aspek yang menjadi konsekuensi identitas pemuda.
Pertama, aspek akademis dan intelektualitas. Dalam aspek ini tuntutan peran dan fungsi pemuda dikonsentrasikan pada satu hal yakni proses belajar. Agar pemuda mampu bersaing baik dalam skala nasional maupun internasional maka aspek ini tidak bisa dinafikan. Sehingga aspek ini lebih utama dari yang utama. Sebab kelayakan pendidikan tentu akan berpengaruh besar terhadap sudut pandang dan kebijakan yang akan diambil.dan diharapkan ia menjadi insan yang memiliki keunggulan intelektual, karena itu merupakan modal dasar kredibilitas intelektual.
Kedua, aspek organisasional. Tidak semua hal bisa dipelajari dalam lembaga pendidikan yang ada kadang pengalaman juga merupakan guru yang paling berharga sehingga organisasi bisa menjadi alternatife lain dalam meperoleh ilmu dan hikmah. Dan aspek organisasi tentu menyediakan kesempatan bereksperimen lebih dalam proses pengembangan diri. Misalnya, aspek kepemimpinan, manajemen keorganisasian, membangun human relation, team building dan sebagainya. Organisasi juga sekaligus menjadi laboratorium gratis ajang aplikasi ilmu yang didapat secara formal.
Ketiga, aspek sosial politik. Pemuda merupakan bagian dari rakyat, bahkan ia merupakan rakyat itu sendiri. Pemuda tidak boleh menjadi entitas terasing di tengah masyarakatnya sendiri. Ia dituntut untuk melihat, mengetahui, menyadari dan merasakan kondisi riil masyarakatnya (real society) yang kemudian akan diteruskan guna mencari solusi tepat dalam menanggulanginya. Ketiga aspek itulah yang akan selalu menemani kehdupan seorang pemuda dikesehariannya.
Sehingga, penulis berharap tulisan ini tidaklah bersifat menggurui atau berbentuk literatur ilmiah yang akan dikaji otentisitasnya. Disamping bukan tulisan ilmiah dan ini hanyalah refleksi sederhana dimana moment perubahan tidaklah mesti kita lalui dengan resepsi hajatan atau semacamnya lebih jauh dari itu kita mampu memulai perbaikan dari mana dan kapan saja tanpa ada batas. (beyond limit and space).(wara’)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: