BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

March 24, 2007

KESADARAN MENGEMBAN AMANAT HIDUP

Filed under: pesan kyai — supraptoe @ 9:43 am

Oleh KH. Hasan Abdullah Sahal

Semakin digali tuntunan Islam untuk kehidupan semakin muncul mutiara-mutiara hikmah yang dapat diambil, benar-benar ibarat tujuh lautan tinta dengan dahan-dahan bumi sebagai pena-penanya. Kita bersyukur bahwasanya kita sebagai sebaik-baik umat dianugerahi: sebaik-baik malam, sebaik-baik bulan, sebaik-baik Rasul/manusia, sebaik-baik Malaikat, dan sebaik-baik kitab
Dan diatas orang yang lebih pengetahuannya masih ada yang lebih pengetahuannya masih ada yang lebih berpengetahuan dan Maha Mengetahui. Hakikat hidup adalah penghambaan diri, bakti suci, pengabdian abadi dan penyembahan total kepada Allah, dalam arti yang luas dan dalam. Totalitas itulah arti semestinya dalam ibadah. Semua menusia dan jin terlibat dan bahkan wajib melibatkan diri.
Apa yang dibumi dan dilangit diperuntukan kepada makhluk terakhir yang bernama manusia. Kenikmatan dan hiasan karunia Allah tidak sepantasnya dikhianati dengan kedurhakaan atau didholimi dengan perbuatan nista/aniaya. Cerita umum kehidupan adalah yang “benar/hak” menurut Allah Sang pencipta/pemelihara dan penentu. Ciptaan dua jenis manusia tidak boleh disalah fungsikan, sebab itu telah menjadi kodrat penciptaan manusia. Masing-masing harus mencari hingga menemukan pola hidup yang saling menguntungkan. Ya….antara manusia dengan alam, ya….laki-laki dengan perempuan, ya……suku bangsa dengan suku bangsa, ya…..si kaya dan si miskin dan seterusnya.
Harus jujur dan adil terhadap karunia Allah ini. Jangan dirusak!, SDA dikalahkan oleh SDM yang berwatak kebinatangan. Akhirnya manusia sendiri yang menderita kerugian. Tingkatan hidup dan perbedaan tempat/waktu/nasib bukan alasan untuk merasa lebih tinggi atau lebih rendah antara satu sama lain. Ukurannya adalah sikap dan amalnya masing-masing. Keimanan dan keteguhan menjadi dasar imbalan berwujud kebahagiaan hidup dan jaminan surga setelah mati. Itulah dasar yang harus menjiwai.
Tiang-tiang penyangga penghambatan, bakti dan pengabdian, harus dijalankan dengan sesempurna-sempurnanya agar membuahkan/manghasilkan kemakmuran manusia sebagai kholifah, maka hendaklah tetap berpegang pada dasar tidak merugikan diri sendiri dan atau pihak lain, tidak menganiaya diri sendiri ataupun pihak lain.
Umur yang pendek dari panjangnya umur dunia takkan berfungsi jika disia-siakan. Jutaan manusia telah mati dan jutaan lagi akan lahir dan hidup, tapi amal menjalankan kekholifahan sebagai amanat adalah tugas mulia yang membedakannya ( mengangkatnya lebih tinggi ) dari makhluk lain. Dan sebaliknya, melupakannya atau meremehkannya membuka jurang paling rendah serendah-rendahnya. Tiada alasan lagi untuk menunda-nunda, baik oleh yang masih muda/kuat maupun yang sudah tua, dan tiada waktu/tempat yang melarang dan menghalangi siapapun untuk memohon ampun dan atau bertobat.
Peringatan, nasihat, wasiat, koreksi positif konstruktif dari manusia masih menguntungkan/menyelamatkan daripada pengadilan malaikat lengkap dengan catatan dokumentasi otentik serta pengakuan langsung dari pelakunya bahkan bumi pun ikut menjadi saksi berbicara.

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa (QS. 43:67 )

Pada hari itu kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan ( QS. 36:65 )

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya (QS. 99:4 )

Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?”. Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. ( QS. 41:21 )
Perebutan harga diri dan pemaksaan penghargaan modus operandi kebinatangan yang terselubung dengan kamuflase kekotoran acapkali berlindung dibawah slogan-slogan “Ilmiah, efisien, sistematis” dan semacamnya. Kebenaran tulen/mutlak dipaksa mentolerir relativitas ilmu (ilmiah) hasil temuan. Banyak manusia lupa Allah sehingga lupa diri menjadi setan, sumber kerusakan. Manusia iri kepada binatang, wanita iri kepada pria, pria iri kepada wanita demikian seterusnya, sehingga tak sadar bahwa iri, dengki, dendam, dan sebagainya tidak merugikan kecuali dirinya sendiri belum tentu merugikan orang lain. Menyalahkan takdir Allah atau menimpakan kesalahan pada pihak lain adalah sia-sia tanpa guna. Pujian dan cacian harus hanya dijadikan sejarah bila seseorang sadar diri dan berakal, sebab pujian hanya milik Allah dan cacian hanya akibat ulahnya sendiri.
Seharusnya manusia tidak boleh pernah lengah sedetikpun bahwa hanya kepada Allah jualah ia takut dan hanya kepada-Nya ia mengharapkan ridho. Manusia dalam sejarahnya pernah benar dan pernah salah, sedangkan Allah Maha Benar selama-lamanya. Banyak rambu-rambu kehidupan kurang ditaati, hingga seakan-akan tidak diperlukan lagi. Iblis ringan tugasnya, karena banyak manusia menjelma menjadi iblis nyata. Menuju kesempurnaan hidup harus secara bersih dan suci serta menjalankan kehidupannya dengan kesucian hati, fikiran, fisik, pakaian. Jabatan dan harta kekayaan harus bersih dan selalu dibersihkan. Yang suci/bersih akan bersih dan yang kotor akan kotor, padahal Allah tidak menerima kecuali yang bersih/suci.
Keteladanan umat Islam menjadi kewajiban utama sebagai syarat keberhasilan. Ketidaannya menyulitkan dan menjauhkan masuknya tuntunan/ajaran kedalam hati umat manusia. Cinta bisa masuk meskipun pintu tertutup karena jendela-jendela hidayah diterima, diterobos oleh hati-hati yang bercinta. Hanya Hidayah dari Allah yang berperan menentukan cinta dan mengarahkannya pada yang Maha Suci. Hasil yang kurang maksimal oleh kaum tua dalam mendidik generasi muda harus menyadarkan semua pihak. Mental-mental kolonial/penjajahan, watak ketergantungan yang sudah kumal dan kuno sudah saatnya dihilangkan, apalagi ketergantungan umat kepada selain Allah dan ajaran-Nya.
Miliu yang ada disekitar umat cukup menentang dan menguji, dan itulah resiko manusia-manusia pilihan. Keteguhan, kesengguhan dan kesadaran hidup ternyata menjadi pekerjaan setiap orang. Dengan ujian dan musibah manusia, khususnya orang-orang pilihan harus mengalaminya sendiri secara langsung. Kemurnian syahadat, kekhusyukan shalat, keikhlasan zakat, kesucian puasa, kesempurnaan haji, kejujuran usaha, keadilan dalam menghukumi, keteladanan pendidik dan lain-lain diuji oleh seribu satu godaan.
Kebendaan, kebebasan, kemaksiatan terbuka luas, janganlah ia menjadi alasan untuk menghancurkan jati diri, harga diri, kesehatan dan masa depan dirinya sendiri, keluarga, bangsa maupun negara. Krisis demi krisis, penyesalan demi penyesalan. Iman digadaikan, bangsa dijual belikan kepada pihak yang tak suka umat beriman, hati nurani diserahkan kepada setan/iblis hanya untuk kelezatan sekejap. Ini contoh kebinatangan modern/masa kini.
Amal saleh ataupun jasa selalu ada, harus tidak memberi kesempatan kepada “alasan”. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (QS. 75:14, 15)

Banyak kalangan yang ingin menyelesaikan masalah tapi justru menjadi dan mendatangkan masalah baru. Membersihkan dengan kotoran……, memperbaiki dengan kejahatan.
Adapula yang merasa paling suci, paling benar tidak mau menerima pendapat atau kehadiran orang lain, sehingga pada akhirnya ia kembali ke pojok-pojok kecil dalam dunia ini, tidak punya peran ditengah luasnya kemajuan masyarakat dan kemasyarakatan, menjadi makanan empuk bagi petualangan-petualangan, bunglon-bunglon, tikus-tikus berjenggot bermain volley, getol bersilat lidah berebut gengsi namun tak bisa lagi menipu kepekaan hati nurani umat. Yang paling berbahagia hanyalah umat yang selalu sadar sejak awal hingga akhir, karena disanalah Allah bersama malaikat-Nya menyertainya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: