BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

March 24, 2007

IBN HAZM

Filed under: tokoh bersejarah — supraptoe @ 9:26 am

Tokoh Ulama’ Tekstual

Jika kita membuka lembaran turats Islam dan wacana intektualitas para cendekiawan muslim, terutama dalam konteks “Comparative Study”, kita akan disuguhkan dengan teori-teori cemerlang dari beberapa ahli terutama Ibn Hazm yang mampu mempengaruhi perkembangan disiplin ilmu ini dalam ruang keilmuan Islam.
Ibn Hazm, lahir di sebuah kawasan yang terletak di sebelah timur kota Qordoba pada tahun 384H (7 November 994M) di akhir bulan Ramadlan, tepat sebelum terbitnya fajar dan setelah waktu subuh. Nama lengkapnya adalah Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm bin Ghalib bin Sholeh bin Khalaf bin Ma’dan bin Sufyan bin Yazid bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayah bin Abd Syams al-Umawiyah. Kakek beliau yang bernama Yazid adalah orang pertama yang masuk Islam diantara para kerabat beliau yang lain, berasal dari Persia sedangkan kakeknya –Khalaf bin Ma’dan- adalah orang pertama yang masuk kota Andalus. Nama panggilan beliau adalah “Abu Muhamad’ atau “Ibn Hazm”.
Beliau tumbuh dan besar di kalangan para pembesar dan pejabat karena kedudukan sang ayah yang menjadi salah satu menteri kerajaan. Walaupun beliau dikelilingi dengan gemerlap harta, kilauan emas permata tidak menjadikan beliau lupa akan kedudukan dan kewajiban agama, beliau sangat interest dengan ilmu dan wacana. Hal itu dilatarbelakangi oleh didikan moral dan agama yang ditanamkan dalam diri Ibn Hazm.
Kondisi sosial, politik, mental dan intelektual yang melatarbelakangi sekaligus menjadi faktor pendorong untuk menjalani hidup dalam pengembaraan, menjelajahi dunia demi mencari jati diri dan hikmah. Disaat menjalani masa perantauan itulah beliau mulai mengenal ilmu dan ulama, mendalami intisari agama melalui para ilmuwan handal kala itu. Misalnya, Abu Muhamad ibn Dakhun, Abdullah al-Azdi, Abi qasim Abdurahman bin Abi Yazid al-Misri, dan masih banyak lagi sederatan ulama yang kadar keilmuannya diakui oleh rakyat Qordoba. Hingga, tidak mustahil –berkat didikan ulama-ulama pilihan- akan tercipta sosok pakar semacam Ibn Hazm yang daya tarik intelektualitasnya diakui oleh semua kalangan termasuk para pakar Barat ketika mengkaji karya monumental beliau yang berjudul: “Al-fasl fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal”.
Ibn Hazm sebagaimana yang kita tahu, adalah ilmuwan yang memiliki keunikan dalam kajian-kajian tentang agama hingga sangat perlu mengetahui karakteristik pemikiran yang mendominasi ide-ide dan cara pandang beliau. Diantara karakteristik tersebut:
1. Eksplisit.
Mungkin ini adalah bentuk dasar sikap yang selalu ditekankan dalam setiap karya dan gaya pemikiran beliau untuk memudahkan pemahaman ilmu dan cakupan-cakupan ide hingga faedah dan kebaikan ilmu dapat diperoleh secara merata. Sifat ekplisit yang tercermin dalam setiap karya-karya beliau –sebenarnya- merujuk pada:
• Pengulang-ulangan; yang sering dipakai dengan tujuan untuk menperjelas ide-ide dan menanamkannya dalam hati plus intelegensi.
• Ekspasisi; yakni menjabarkan dengan luas dimana tidak cukup dengan sebuah perkataan yang singkat namun juga sederhana..
2. Keras dan Tegas.
Sifat ini nampak tidak pantas dimiliki oleh sosok ilmuwan sekaliber Ibn Hazm, namun kalau kita kaji lebih lanjut bukanlah menjadi sebuah sifat negatif bagi beliau, sebaliknya hal itu membuktikan kedisiplinan dan keteguhan tekad seorang pemikir. Untuk menjawab mengapa beliau bersikap demikian? Terdapat beberapa point mendasar yang harus dipahami:
• Kerenggangan hubungan yang kerap terjadi antara beliau dengan masyarakat kala itu. Beliau dituduh dalam menyimpang dari agama, diasingkan dari penduduk sekitar dengan tidak baik, sikap manusia kala itu yang keras, kasar dan melupakan jasa-jasa beliau. Bahkan lebih dari itu, mereka membakar buah pemikiran beliau, membakar buku-buku di hadapan umum di kota Siville. Mungkin itu yang membuat orang budiman menjadi berubah dan melahirkan sifat-sifat seperti tidak sabar dan kurang bersikap lapang dada.
• Sikap kaum Yahudi dan Nasrani yang hidup di kota Andalus telah melampaui batas dan sering melanggar batas-batas etika dan moral. Mungkin alasan ini jualah yang mendasari sikap keras beliau dalam menghadapi setiap serangan-serangan mereka terhadap Islam.
Sedangkan metodologi pemikiran yang terbentuk bersifat tekstual, yakni mengambil kandungan kata dan bukan intisari makna sebuah dalil atau ayat. Metode ini bersandar pada 2 inti dasar. Pertama; berpegang pada teks-teks Al Quran, Hadits dan Ijma’. Kedua; tidak menerima dalil qiyas, istihsan, pendapat dan taqlid. Lalu apa yang melatarbelakangi beliau memilih metode ini? Sebenarnya kondisi sosial dan politik kala itu ikut pula mendukung pemikiran Ibn Hazm dalam memilih metode ini. Sebagai deskripsi dasar kondisi sosio-politik kala itu, adalah sebagai berikut:
1. Perbedaan ulama yang pula ikut mewarnai munculnya pendapat yang bermacam-macam dan -kadangkala- saling tumpang tindih hingga mampu membingungkan rasio kemanusiaan, tidak mengetahui sisi-sisi kebenaran. Beliau berpendapat bahwa kondisi ini berpangkal dari pengambilan sumber hukum yang beraneka ragam, misalnya, qiyas, istihsan, mashalih mursalah dan beberapa sumber hukum lainnya.
2. Kehancuran moral dan mewabahnya sikap hipokrit di tengah-tengah masyakarat. Dan ini telah menjadi perilaku ulama-ulama kala itu, menciptakan sosok-sosok pemimpin yang dibentuk atas dasar dholim dan penyelewengan demi mengeruk harta dunia.
3. Perseteruan dan perpecahan yang terjadi diantara para penganut madzhab/aliran, semuanya berlomba memenangkan madzhabnya sendiri dan mempertahankan pendapat tokohnya hingga kepatuhan seseorang kepada sang tokoh melebihi rasa kepatuhan kepada Nabi Muhammad Saw.
Akhirnya pada 28 Sya’ban 402H bertepatan pada tahun 1063M beliau memenuhi panggilan Allah Swt. Wafatnya beliau, cukup membuat masyarakat kala itu merasa kehilangan dan terharu, apalagi mengingat perjalanan hidup yang penuh dengan kegetiran nan menyayat, kepedihan hati yang mendalam dan derita hidup yang tak pernah hilang dari ingatan. Hingga khalifah Mansur al-Muwahidi, khalifah ketiga dari bani Muwahid termenung menatap kepergian sang ulama besar, Ibn Hazm, seraya berucap: “Setiap manusia adalah keluarga Ibn Hazm”. Mungkin ungkapan khalifah Mansur ini terilhami dengan riwayat hidupnya dalam perantauan.
Rasanya tulisan ini belum dapat mewakili kebesaran nama dan kewibaan sikap beliau. Meski demikian, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: