BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

March 24, 2007

Dua Pangeran dari Khayangan

Filed under: hikayah — supraptoe @ 9:09 am

Oleh : Elais Biru

Seandainya kalian jadi aku, mana yang akan kalian pilih…
Kedua-duanya begitu indah,
Kedua-duanya begitu istemewa,
Kedua-duanya begitu mempesona, dan,
Kedua-duanya telah membuat aku berhutang budi.
¬¬¬

___ @@@ ___

Esoknya aku memohon izin pada Ka Santi, kejadian semalam cukup menghilangkan konsentrasiku, sehingga aku tidak bisa memimpin orasi kali ini. Setelah aku jelaskan apa yang menimpaku tadi malam, akhirnya ka Santi mau menggantikanku. Semua teman-temankupun bersimapati padaku. Dan Tentu saja setelah ini tidak akan ada lagi perkumpulan pada malam hari. Ketika akan mulai unjuk rasa, aku bertemu Rian di gedung depan, sepertinya dia sedang buru-buru. Dia melihatku, akhirnya aku mengobrol sebentar sembari mengucapkan terima kasih atas pertolongannya tadi malam.
Ini pertama kalinya aku lihat dia tersenyum. Manis sekali.
¬¬___ @@@ ___

Setelah dua minggu berlalu dari kejadian itu, aku semakin sering bertemu Rian, ditambah ternyata tempat kosnya tak jauh dari rumahku. Rupanya abah dan umi pun semakin akrab dengan pria jangkung berkacamata itu.
Hari ini umi memintaku mengantarkan baju dan beberapa makanan ke rumah bibi Inah, adik umi. Sambil terus mewanti-wanti agar aku tak pulang malam. Rumah bibi berada dekat stasiun kereta api Kiaracondong. Dari sana aku masih harus berjalan melewati rel kereta kearah timur sekitar 50 M. Sebenarnya bisa juga aku berjalan disebrang stasiun, tapi dari kecil aku senang sekali jika jalan diatas rel.
Sambil berjalan pikiranku melayang. Wanita memilki firasat kuat saat dia diperhatikan orang dari jauh, dan akau merasa Rian sering mencuri pandang padaku. Astagfirullah, tak baik berburuk sangka, aku coba buang fikiran itu, lebih baik aku mengingat masa kecilku disini saat teh Ani, dan teh Uma mengajakku bermain. Kami menaruh paku diatas rel, dan sangat senang ketika kereta lewat lalu mendapati paku itu menjadi gepeng.
Tiba-tiba, kantong plastik bawaanku jatuh, aku ambil sejenak. Saat aku hendak melangkah kakiku terjepit oleh lintasan kereta api. Ternyata dua lintasan kereta itu bergerak dan menyatu menjadi satu lintasan. Ya Allah, kakiku terjepit ! aku coba tarik kakiku sekuat mungkin, tapi sia-sia. Bagaimana jika tiba-tiba kereta melintas saat keadaanku begini. Aku melihat sekitar. Percuma, tidak ada orang yang bisa menolongku.
Aku masih berusaha menarik kakiku. Dari jauh aku lihat ada kereta api mendekat. Ya Allah, tolonglah aku! Aku berusaha berteriak. Tenyata ada yang melihatku. Dia berlari mendekat, wajahku pucat, rupanya dia langsung mengerti keadaanku, dia berusaah mendorong perubah jalur dari luar lintasan. Kereta semakin dekat. Tampaknya dia kesulitan mendorong alat itu, wajahku menunjukan penuh harap padanya. Ya Allah, Bantu dia. Aku bisa mati kalau dia tak berhasil mendorong alat itu. Dan kereta semakin mendekat.
Tepat beberapa meter kereta didepanku, dia berhasil menggeser alat itu, rel kereta melonggar sebentar, kontan dia tarik aku ke pinggir, tepat dengan lewatnya kereta api. Aku lemas. Ya Allah, andaikan telat satu menit saja aku… Oh, rasanya lega sekali.
Ridho, begitu namanya, orang yang menolongku tadi. Dia tampak kelelahan. Lantas dia antar aku hingga rumah bi Inah. Aku, entah apa yang harus aku ucapkan padanya. Dan Ridho, aku tentu saja berhutang nyawa padanya.
___ @@@ ___

“Teh, tadi ada a Rido kesini nganterin buku teteh, katanya ketinggalan kemarin di stasiun.” Ujar Anton, adikku.
“Oh, mana? Ridho titip pesen ga.”
” Engga, tapi tadi aa Ridho nanyain teteh mulu, kayaknya suka deh ama teteh.”
” Hus, ngawur, Ridho itu temen teteh tau. ”
” Oh, dikirain bakal calon aa Ipar Anton. ” Dia nyengir sambil lari meninggalkannku.
Aku terdiam sejenak. Dua kejadian berurutan terjadi dalam satu bulan.
Rian telah menyelamatkan kesucianku, dan
Ridho telah menyelamatkan nyawaku. Aku bingung…
Esoknya aku datang ke Kampus, rupanya Ardi sudah menunggu dari tadi di depan kelas. Dia membawa sesuatu di tangannya.
” Rim, kamu kenal Rido, anak Rohis IAIN Bandung, kebetulan dia kos dekat
denganku, Tadi dia titip surat buat kamu. ”
Aku ambil surat darinya.
Assalamualaikum Wr Wb.
Ukhti Rima…
Dua minggu yang lalu kita bertemu. Dari situ aku merasa kau bagaikan
pelangi. Ia Bercahaya, dan kau berseri. Keindahanmu tetap memancar.
Engkau lembut namun tidak dapat disentuh. Jika ukhti setuju izinkn saya
melamar ukhti untuk menyempurnakan separuh dien. Setelah ukhti
mendapat jawaban dari Istikhoroh, mungkin saya dapat berjumpa dengan
keluarga dirumah.
Semoga Allah merestui niat baik hambaNya.
Wassalam.
Aku lipat surat itu sambil menitikan air mata.
” Kenapa Rim, dilamar ama Ridho ya, terima aja, aku kenal banget sama dia, lagian skripsinya
udah selesai. Denger-denger dia juga udah dapet pekerjaan, orangnya soleh, jarang-jarang dia kenal sama cewek. Kamu beruntung. ” Ardi bicara panjang lebar.
Selesai kuliah aku mampir ke kantor ROHIS, terlihat banyak akhwat sedang berdiskusi masalah Fiqh wanita, langsung aku ikut bergabung. Selesai memaparkan materi kak Santi mengajakku bicara. ” Maaf Rima, tadi Ustadz Arifin bilang ke kakak, ada ikhwan anak Tapak Suci, dia mau melamar kamu. Katanya daripada terus kebayang terus tentang kamu lebih baik menikah saja, menghindari fitnah juga. Sepertinya orangnya sudah kenal kamu lama. Namanya Rian.” Aku terdian lama.
___ @@@ ___
Malam ini rumahku seperti kedataangan tamu agung, Rian dan Ridho datang bersamaan. Entah bagaimana ceritanya, yang aku tau mereka tidak bermain-main dengan niatnya masing-masing. Langsung bertemu abah dan benar-benar menyamapikan maksud unuk
melamarku. Suasana begitu tegang saat itu, abah, ummi, dan Anton semua duduk di teras depan bersama kedua tamuku ini. Abah dengan wajah sedikit kaget dan heran akhirnya angkat
suara. ” Nak Rian, Nak Ridho, abah tau kalian berdua menaruh hati pada putriku satu-satunya ini. Abah juga tau setiap dari kalian telah berjasa bagi kehidupan putriku, dan abah sangat menghormati niat suci kalian ingin menikahi anakku. Abah sendiri menyerahkan pada Rima, tapi maaf ada satu hal yang abah belum ceritakan. Abah memohon maaf pada kalian berdua, karena abah kadung janji pada almarhum Haji Rahmat, teman seperjuangan abah dahulu untuk menikahkan Rima dengan putranya yang sedang menempuh study di Madinah, jadi sekali lagi maaf, abah terikat janji, untuk tidak bisa mengabulkan permintaan kalian. “Abah bercerita panjang lebar. Ria, dan Ridho saling berpandangan. Kami semua terdiam.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: