BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN

March 24, 2007

Karier Wanita dan Wanita Karier

Filed under: wacana — supraptoe @ 9:36 am

Wanita selalu identik dengan keindahan, kelembutan dan mungkin kelemahan. Sifat-sifat tersebut terlihat dari bentuk fisik, gerak dan suaranya. Maka, tak jarang identitas gen tersebut sering dijadikan amunisi utama distinguis laki-laki dan perempuan. Islam adalah agama yang telah lama berkenalan dengan wanita, memposisikan wanita sesuai fitrah diciptakannya, wanita pun turut memiliki kedudukan mulia sebagai khalifah layaknya kaum Adam. Peranan sentralnya sebagai pembentuk generasi shalih menjadi tumpuan utama bagi proses perjalanan kehidupan.
Namun, seiring dengan perjalanan waktu. Disadari atau pun tidak, timbul dilema baru dalam diri seorang wanita dan ini menjadi kemelut berkepanjangan dalam masyarakat. Saat ini, mereka -kaum hawa- harus bekerja keras banting tulang mencari nafkah menggantikan tugas laki-laki. Laki-laki sendiri seolah kehilangan kesempatan pekerjaan sebab dominasi “wonder women” telah semakin menjamur mengisi pos-pos penting Institusi dan Departemen; yang berakibat pada kompetisi diam-diam satu pihak dengan lainnya (baca; laki-laki dan perempuan), postulat semacam ini kerap menimbulkan masalah psikologis tersendiri bagi laki-laki. Tetapi benarkah label wanita karir satu-satunya ikon kebebasan perempuan?
Temuan seorang filosof bidang ekonomi, Joel Simon, menyatakan jika para wanita di barat telah di rekrut pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi, hal itu harus mereka bayar mahal seiring dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka.
Saat ini, berkarier bagi mereka benar-benar dijadikan sebagai jalan mengaktualisasikan diri dan membentuk identitasnya, tetapi terkadang diikuti pengingkaran kodratnya sebagai “mahluk halus”. Dalam sebuah buku, seorang penulis Inggris menyebutkan; ciri-ciri wanita karier menurutnya adalah mereka tidak suka berumah tangga, enggan berfungsi sebagai ibu, tingkat emosinya berbeda dengan wanita-wanita non karier, dan biasanya kebanyakan mereka menjadi wanita melankolis. Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan polling seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil polling tersebut di dapat kesimpulan, sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65 % dari mereka mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka, masalahnya tidak sampai disitu, wanita bagaimanapun jua berbeda dengan laki-laki, dalam perjalanan kariernya wanita umumnya lebih sering mengalami apa yang disebut sebagai efek “langit-langit kaca” (glass ceiling). Langit-langit kaca adalah sebuah artificial barrier yang menghambat wanita mencapai posisi puncak di institusi tempat ia bekerja.
Secara faktual kaum hawa melihat posisi puncak itu dan merasa mampu mencapainya, tetapi pada kenyataannya, realisainya tersebut sulit tercapai sebab langit-langit kaca tadi malah menjadi tameng kuat bagi mereka. Hal demikian disebabkan karena hakikat kodratinya yang tak dapat dipungkiri, karena bagaimanapun wanita memiliki kekhasan secara fisik dan psikis.
Menyinggung tentang peran wanita di luar rumah, tak lepas dari wacana yang banyak digulirkan, yaitu, emansipasi. Namun, jika merunut pada akar sejarahnya gerakan emansipasi tumbuh sejak awal abad XX, propaganda gerakan ini justru muncul dari pihak laki-laki dan hanya sedikit saja peran wanita. Awalnya gerakan emansipasi hanyalah seruan kepada pemerintah untuk memperhatikan kesempatan pendidikan akademis bagi wanita. Seruan ini cukup mendapat simpati karena aktivitasnya mengarah kepada peningkatan kecerdasan, keleluasaan gerak wanita dalam ruang sosial dan berusaha menciptakan generasi baru yang lebih cakap dan berkualitas.
Seiring dengan perkembangan zaman mereka tidak saja menyerukan pentingnya mendapatkan pendidikan, tapi juga meneriakkan persamaan derajat, kebebasan dan peningkatan karir di segala bidang. Munculah gerakan besar-besaran untuk mendapatkan kesempatan agar bisa tampil di ruang publik, bekerja dan melakukan aktivitas apa saja layaknya kaum Adam. Mereka beralasan wanita yang tinggal di rumah adalah wanita yang terstagnasi dan terpasung eksistensi dirinya, wanita seperti ini sama sekali tidak menunjang usaha produktivitas. Menurut golongan ini wanita secara intelektual sama dengan laki-laki, mereka berasumsi jika wanita yang telah beralih profesi sebagai ibu rumah tangga dianggap wanita eklusif yang bakal kehilangan partisipasinya dalam masyarakat; karena bagi mereka apa yang dikerjakan laki-laki dapat pula dikerjakan oleh perempuan. Mereka menyamakkan segala hal antara laki-laki dan perempuan, padahal kita tidak dapat menutup mata jika terdapat hal mendasar -mungkin mereka lupa- antara laki-laki dan perempuan yang tidak mungkin disamakan.
Isu gerakan emansipasi dan karirisasi ini tak ayal lagi sering dijadikan lahan bisnis bermuatan politis. Oleh karena itu, bagi mereka yang dicurigai menghalangi gerakan emansipasi di sebut sebagai kaum terbelakang. Sementara itu, agama sendiri sering dijadikan kambing hitam perkara sebagai entitas nyata yang menghalangi gerakan tersebut. Demikianlah gambaran dari realitas perkembangan kehidupan sosial kaum hawa di berbagai negara, termasuk di negri kita, Indonesia, yang kian hari kian sering memposisikan gelar wanita karir sebagai new freedom dunia industri made in west.
Lantas bagaimana karir wanita dalam perspektif Islam? Islam menjunjung tinggi derajat wanita, menghormati kesuciannya serta menjaga martabatnya, maka, dalam kehidupan sehari-hari Islam memberikan tuntunan dengan ketentuan hukum syariat yang akan memberikan batasan dan perlindungan bagi kehidupan wanita, semuanya disediakan Islam sebab wanita memang istimewa, agar wanita tidak menyimpang dari apa yang telah digariskan Allah terhadap dirinya, semuanya merupakan bukti bahwa Allah itu Ar-Rahman dan Ar-Rahim terhadap seluruh hamba-hambaNya.
Allah menciptakan kaum Adam dan Hawa sesuai fitrah dan karakter keduanya yang unik. Secara alami (sunatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan melakukan pekerjaan yang berat, menjadi pemimpin dalam segala urusan, khususnya keluarga, Negara dan lain-lain. Kaum Adam pun dibebani padanya tugas menafkahi keluarga secara layak. Sedangkan bentuk fitrah wanita yang tidak bisa di gantikan laki-laki adalah, mengandung, melahirkan, menyusui, serta menstruasi yang sering mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir. Wanita hamil ketika melahirkan membutuhkan waktu istirahat cukup banyak, kemudian menunggu hingga 40/60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan tekanan yang demikian banyak. Ditambah masa menyusui yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang di makan sang ibu, sehingga otomatis dapat mengurangi stamina si ibu. Haruskan “beban” berat alamiah tersebut diperparah dengan tugas di luar tanggungjawabnya?
Oleh karena itu, Dînul Islâm menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/ karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak membatasi haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek yang menyinggung garis-garis kehormatannya, kemuliaannya dan ketenangannya, yang dapat berakibat pada pelecehan dan pencampakan. Peran wanita muslimah selain mendidik anak-anaknya, diharapkan berbuat baik pada suami dan menaatinya setelah ketaatannya pada Allah Swt. Rasulullah Saw memuji wanita shalihah dengan haditsnya ketika beliau ditanya tentang siapakah sebaik-baiknya wanita? Rasulullah Saw bersabda; yang artinya: “Wanita yang menyenangkan jika dipandang, menurut jika diperintah, tidak mengingkari dirinya dan hartanya sesuatu yang dilarang” (H.R. An-Nasa’i). Wallahu’alam Bishawab(tuti)

10 Comments »

  1. the best opinion, i am agree

    Comment by hilmi — June 14, 2007 @ 1:31 am | Reply

  2. artikelnya bagus makasih dah bantu tugas aq secara gak langsung

    Comment by yuki — March 22, 2008 @ 11:57 am | Reply

  3. keren om . terus berusaha

    Comment by dias — April 2, 2008 @ 3:03 pm | Reply

  4. menurut saya wanita karier dan rumah tangga
    asal mampu membagi dan mencurahkan perhatian
    thdp keluarga dgn
    simbang akan baik sekali krn zaman skrg wanita hrs lebih kreatif dan pintar agar anak2 jg bisa disekolahkan dgn baik serta gizi yg baik

    Comment by farindiani sp.d — April 17, 2008 @ 8:19 am | Reply

  5. ass
    salam kenal
    mba mo tanya donk?
    punya referensi tentang buku wanita karier gak?
    ada gak poling tentang banyak atau tidak yang memilih menjadi wanita karier dan datanya diambil dari mana?
    saya sangat mengharapkan bantuannya ya mba …
    soalnya saat ini saya sedang menyelesaikan skripsi tentang wanita karier..
    terimakasih sebelumnya
    fatma

    Comment by fatma — July 29, 2008 @ 10:55 am | Reply

  6. joel simmon? judul bukuny apa yah?

    Comment by ummu masyhudi — January 17, 2009 @ 4:13 pm | Reply

  7. Banyak kajian tentang perempuan tapi sayang sekali sedikit sekali saya temukan kajian tentang laki – laki.
    Kenapa perempuan begitu sering dibicarakan sedangkan laki – laki luput dari kajian keilmuan.
    Atau mungkin kita harus membuat sebuah gerakan yang lebih menyoroti kaum adam.. sama seperti pada awal kisah emansipasi wanita terjadi.

    Comment by Gita — April 6, 2009 @ 3:36 pm | Reply

  8. salam kenal mba..
    terimakasi banyak sebelumnya..
    tulisan mba sangat membantu sekali..
    saat ini saya sedang menyusun skripsi tentang wanita karier..
    kalau boleh tanya, mba punya referensi buku tentang wanita karier ngaa?
    terimakasi..

    Comment by kiki — April 21, 2009 @ 7:37 am | Reply

  9. Assalamualaikum
    Salam kenal mbak…
    Semoga saya bisa menjadi wanita karir yang islami. Amien
    Eassalam

    Comment by rizki — April 26, 2009 @ 5:24 am | Reply

  10. [...] Pertama, berhubungan dengan ekonomi. Tuntutan ekonomi di kota besar yang semakin tinggi  membuat perempuan harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan dan membantu ekonomi keluarga (http://tips-dunia-karir.blogspot.com/2009/05/karir-wanita-dan-wanita-karir.html). Berkarier dianggap sebagai jalan mengaktualisasikan diri dan membentuk identitas perempuan, adalah alasan berikutnya mengapa perempuan bekerja (http://supraptoe.wordpress.com/2007/03/24/karier-wanita-dan-wanita-karier/) [...]

    Pingback by Kampus Orang Muda Jakarta» Blog Archive » Ideologi “Asal Ga Pegang Sapu” — July 11, 2009 @ 7:49 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: